maju mundur putar – putar.
dia, jiwanya, meninjau sekitar.
tak pelak timbulkan racauan dan kelakar
masih saja suara-Nya tak dapat terpapar
dan si dia terduduk lesu berharap di selasar
apa gerangan? bisakah binar terbit dalam sekejap?
‘tidak, anakku…’ jawab-Nya. ‘teruslah membaca, terpekur.’
sampai akhirnya kau menyadari dan terkesiap
oh inilah Sang suara-Nya yang bertutur.
Oh jadi gitu…
kirain sapa..?
iya gitu… (ini ngomongin apa sih)