Archive for July, 2009

28
Jul
09

disasters

backsound : john mayer – no such thing
mood           : kontemplatif

Baru aja hari minggu 26 Juli 2009 kemaren om gw meninggal. musibah buat buat kita semua, keluarga & temen²nya, terutama buat anak & istrinya…

selama proses pengurusan jenazah sampe pemakaman, selalu ditekankan kalo kita harus ikhlas memaafkan kesalahan² orang yang meninggal itu.

bukan perkara sulit. om gw orang yang baik. dan gw seneng dia meninggal dalam keadaan yang bagus :)


cuma beda sekitar sehari, dini hari tadi, rumah om gw yang laen di daerah manggarai kebakar abis. 3 kerabat + anak bungsunya ga bisa nyelametin diri. gw ga ikut nyokap ke pemakaman karena masih tepar akibat flu. tapi dari berita – berita di tv yang gw liat, om gw itu kliatan shock banget.

smoga beliau dikasih ketabahan. amin.


pelajaran yang gw ambil…

pertama, slama gw hidup, gw bakal sangat berusaha untuk menjaga hubungan baik dengan orang lain. minta maaf kalo ngelakuin kesalahan & memaafkan orang lain yang bersalah sama gw.


ngomong sih emang gampang. faktanya memaafkan itu sulit, sangat sulit. termasuk memaafkan diri sendiri. tapi yang jelas, pemutusan tali silaturahmi ga akan membawa berkah…

gw bakal terus berusaha, sampe akhirnya nanti biar Tuhan yang nentuin. yang penting gw udah berusaha.

kedua, kehilangan adalah hal yang paling dibenci manusia. kehilangan berarti perpisahan, kehilangan berarti sesuatu / seseorang tidak jadi milik kita. kematian termasuk perpisahan. awalnya, bakal ada perasaan denial. seolah – seolah orang yang meninggal itu cuma pergi keluar sebentar & bakal balik lagi ke rumah. ngeliat baju – bajunya di lemari, fotonya, sendal & gelas yang biasa dia pake, ngebawa 2 perasaan yang lumayan bertolak belakang :

- barangnya ada, dia masih ada bareng kita.

- barang² tsb somehow mengingatkan kita kalo dia ga akan pernah ada  lagi untuk memakai semua itu.


gw pengen berusaha lebih menghargai lagi orang² yang gw sayang di sekeliling gw. kadang itu sulit dilakuin karena kadang kita bakal berkonflik dengan orang² itu. tapi balik lagi ke pelajaran pertama… smoga gw bisa ikhlas memaafkan.


pelajaran terakhir?

dari kecil, gw bercita² bisa punya rumah tingkat. ga tau kenapa. tapi gw suka banget naik turun tangga. (hobi yang aneh :lol: )

tapi dengan musibah kebakaran yang menimpa om gw, gw bakal berpikir berjuta – juta kali sebelom mutusin untuk tinggal di apartemen atau di rumah bertingkat.


cheers, everyone :)

26
Jul
09

fight the bad feeling

what do i do. i keep having a bad thoughts.
i’m sorry

i know that i can’t be like this
if i say that it’s a lie, a lie
will my heart go back
tears fall
i can’t even look at you because i’m so sorry
my heart hurts
what do i say first
i can’t think

22
Jul
09

anomi

backsound : Michael Jackson – Man in the Mirror
mood           : anomie

migrain dan mual tidak berkesudahan… kalo sekarang gw ditawarin peran ibu hamil buat film, gw bisa menghayati abis – abisan kali ya.

apa sekarang gw sedang mengalami anomi ya?

bukan karena ga ada nilai yang dipegang, tapi karena terlalu banyak jenis nilai yang disosialisasikan ke gw. untuk mengobservasi & menganalisa orang lain, gw bersyukur banget dapet masukan macem – macem jenis nilai selama gw hidup ini. jadinya ga judgemental. bisa lebih memahami meskipun ga selalu menyetujui.

tapi kalo diterapin ke diri sendiri? untuk gw, niscaya gw kebingungan. mungkin emang gw-nya aja yang belom bisa memahami semua jenis nilai itu secara keseluruhan, memetakan polanya, dan ngambil benang merahnya. tapi ya gitu sekarang. MUMET.

apa yang ga jadi masalah buat gw ternyata dianggap masalah oleh orang lain.

apa yang gw anggep masalah ternyata dianggap angin lalu oleh orang lain.

apa gw ga bisa langsung nanya ke Tuhan trus langsung dapet jawaban yak?

Terlalu banyak tau dan terlalu banyak berpikir itu tidak menyenangkan. ignorance is a bliss…

kita berinteraksi pake nilai siapa sih, kita atau lawan bicara kita?

kadang nilai general di masyarakat masih aja rancu. masa tiap kali ngobrol bikin surat kontrak perjanjian dulu??

damn, it’s getting more complicated…

gw jadi inget kata – kata takuya kimura di dorama change :

“since we think we’re all alike, we get mad when we get contradicted. no two people are alike, everyone thinks differently and has different situations.”

by the way, kata Durkheim, individu yang mengalami anomi bisa bunuh diri.

no no. gw ga sesuram itu. at least skarang. dulu sih pernah kepikiran. tapi ya sudah. masa lalu itu.  MASA LALU KAAAAN?? *ngomong sama kaca*

seseorang… tolonglah, siapapun anda yang ternyata diutus Tuhan untuk saya, tolong tampar saya sekarang. tampar gw sampe gw bener – bener sadar dan keluar dari keadaan anomi.

p.s : tulisan gw kedengeran pathetic skali. sbenernya tidak separah itu… bahasa tulisan kadang membuat suatu hal terasa lebih parah, tergantung gaya penulisannya.

17
Jul
09

Belajar Kesetiaan pada Hachiko

backsound :  Satie – Gymnopedie No. 1
Mood          : blue

Repost dari “Inspiring Stories II (Kisah – kisah Pembangun Jiwa” yang diposting oleh Budi Hidayat.


Sedikit komen, gw udah cukup lama pernah baca kisah ini sebelumnya di satu majalah yang gw lupa judulnya. Dan sekarang, untuk kesekian kalinya setelah gw baca kisah si anjing yang luar biasa setia ini, nyokap mengira gw yang lagi terdiam di depan komputer, secara misterius kena flu berat mendadak :mrgreen:

Hachiko dog statue in Shibuya

Di Kota Shibuya, Jepang, tepatnya di alun-alun sebelah timur Stasiun Kereta Api Shibuya, terdapat patung yang sangat termasyur. Bukan patung pahlawan ataupun patung selamat datang, melainkan patung seekor anjing. Dibuat oleh Ando Takeshi pada tahun 1935 untuk mengenang kesetiaan seekor anjing kepada tuannya.

Seorang Profesor setengah tua tinggal sendirian di Kota Shibuya. Namanya Profesor Hidesamuro Ueno. Dia hanya ditemani seekor anjing kesayangannya, Hachiko. Begitu akrab hubungan anjing dan tuannya itu sehingga kemanapun pergi Hachiko selalu mengantar.

Profesor itu setiap hari berangkat mengajar di universitas selalu menggunakan kereta api. Hachiko pun setiap hari setia menemani Profesor sampai stasiun. Di stasiun Shibuya ini Hachiko dengan setia menunggui tuannya pulang tanpa beranjak pergi sebelum sang profesor kembali.

Dan ketika Profesor Ueno kembali dari mengajar dengan kereta api, dia selalu mendapati Hachiko sudah menunggu dengan setia di stasiun. Begitu setiap hari yang dilakukan Hachiko tanpa pernah bosan.

Musim dingin di Jepang tahun ini begitu parah. Semua tertutup salju. Udara yang dingin menusuk sampai ke tulang sumsum membuat warga kebanyakan enggan ke luar rumah dan lebih memilih tinggal dekat perapian yang hangat.

Pagi itu, seperti biasa sang Profesor berangkat mengajar ke kampus. Dia seorang profesor yang sangat setia pada profesinya. Udara yang sangat dingin tidak membuatnya malas untuk menempuh jarak yang jauh menuju kampus tempat ia mengajar. Usia yang semakin senja dan tubuh yang semakin rapuh juga tidak membuat dia beralasan untuk tetap tinggal di rumah. Begitu juga Hachiko, tumpukan salju yang tebal dimana-mana tidak menyurutkan kesetiaan menemani tuannya berangkat kerja. Dengan jaket tebal dan payung yang terbuka, Profesor Ueno berangkat ke stasun Shibuya bersama Hachiko.

Tempat mengajar Profesor Ueno sebenarnya tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya. Tapi memang sudah menjadi kesukaan dan kebiasaan Profesor untuk naik kereta setiap berangkat maupun pulang dari universitas.

Kereta api datang tepat waktu. Bunyi gemuruh disertai terompet panjang seakan sedikit menghangatkan stasiun yang penuh dengan orang-orang yang sudah menunggu itu. Seorang awak kereta yang sudah hafal dengan Profesor Ueno segera berteriak akrab ketika kereta berhenti.

Ya, hampir semua pegawai stasiun maupun pegawai kereta kenal dengan Profesor Ueno dan anjingnya yang setia itu, Hachiko.. Karena memang sudah bertahun-tahun dia menjadi pelanggan setia kendaraan berbahan bakar batu bara itu.

Setelah mengelus dengan kasih sayang kepada anjingnya layaknya dua orang sahabat karib, Profesor naik ke gerbong yang biasa ia tumpangi. Hachiko memandangi dari tepian balkon ke arah menghilangnya profesor dalam kereta, seakan dia ingin mengucapkan, “Saya akan menunggu tuan kembali.”

“Anjing manis, jangan pergi ke mana-mana ya, jangan pernah pergi sebelum tuan kamu ini pulang!”, teriak pegawai kereta setengah berkelakar. Seakan mengerti ucapan itu, Hachiko menyambut dengan suara agak keras, “Guukh!”

Tidak berapa lama petugas balkon meniup peluit panjang, pertanda kereta segera berangkat. Hachiko pun tahu arti tiupan peluit panjang itu. Makanya dia seakan-akan bersiap melepas kepergian profesor tuannya dengan gonggongan ringan. Dan didahului semburan asap yang tebal, kereta pun berangkat. Getaran yang agak keras membuat salju-salju yang menempel di dedaunan sekitar stasiun sedikit berjatuhan.

Di kampus, Profesor Ueno selain jadwal mengajar, dia juga ada tugas menyelesaikan penelitian di laboratorium. Karena itu begitu selesai mengajar di kelas, dia segera siap-siap memasuki lab untuk penelitianya. Udara yang sangat dingin di luar menerpa Profesor yang kebetulah lewat koridor kampus.

Tiba-tiba ia merasakan sesak sekali di dadanya. Seorang staf pengajar yang lain yang melihat Profesor Ueno limbung segera memapahnya ke klinik kampus. Berawal dari hal yang sederhana itu, tiba-tiba kampus jadi heboh karena Profesor Ueno pingsan. Dokter yang memeriksanya menyatakan Profesor Ueno menderita penyakit jantung, dan siang itu kambuh.. Mereka berusaha menolong dan menyadarkan kembali Profesor. Namun tampaknya usaha mereka sia-sia. Profesor Ueno meninggal dunia.

Segera kerabat Profesor dihubungi. Mereka datang ke kampus dan memutuskan membawa jenazah profesor ke kampung halaman mereka, bukan kembali ke rumah Profesor di Shibuya.

Menjelang malam udara semakin dingin di stasiun Shibuya. Tapi Hachiko tetap bergeming dengan menahan udara dingin dengan perasaan gelisah. Seharusnya Profesor Ueno sudah kembali, pikirnya.

Sambil mondar-mandir di sekitar balkon Hachiko mencoba mengusir kegelisahannya. Beberapa orang yang ada di stasiun merasa iba dengan kesetiaan anjing itu. Ada yang mendekat dan mencoba menghiburnya, namun tetap saja tidak bisa menghilangkan kegelisahannya.

Malam pun datang. Stasiun semakin sepi. Hachiko masih menunggu di situ. Untuk menghangatkan badannya dia meringkuk di pojokan salah satu ruang tunggu. Sambil sesekali melompat menuju balkon setiap kali ada kereta datang, mengharap tuannya ada di antara para penumpang yang datang.

Tapi selalu saja ia harus kecewa, karena Profesor Ueno tidak pernah datang. Bahkan hingga esoknya, dua hari kemudian, dan berhari-hari berikutnya dia tidak pernah datang. Namun Hachiko tetap menunggu dan menunggu di stasiun itu, mengharap tuannya kembali. Tubuhnya pun mulai menjadi kurus.

Para pegawai stasiun yang kasihan melihat Hachiko dan penasaran kenapa Profesor Ueno tidak pernah kembali mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Akhirnya didapat kabar bahwa Profesor Ueno telah meninggal dunia, bahkan telah dimakamkan oleh kerabatnya.

Mereka pun berusaha memberi tahu Hachiko bahwa tuannya tak akan pernah kembali lagi dan membujuk agar dia tidak perlu menunggu terus. Tetapi anjing itu seakan tidak percaya, atau tidak peduli. Dia tetap menunggu dan menunggu tuannya di stasiun itu, seakan dia yakin bahwa tuannya pasti akan kembali. Semakin hari tubuhnya semakin kurus kering karena jarang makan.

Akhirnya tersebarlah berita tentang seekor anjing yang setia terus menunggu tuannya walaupun tuannya sudah meninggal. Warga pun banyak yang datang ingin melihatnya. Banyak yang terharu. Bahkan sebagian sempat menitikkan air matanya ketika melihat dengan mata kepala sendiri seekor anjing yang sedang meringkuk di dekat pintu masuk menunggu tuannya yang sebenarnya tidak pernah akan kembali. Mereka yang simpati itu ada yang memberi makanan, susu, bahkan selimut agar tidak kedinginan.

Selama 9 tahun lebih, dia muncul di station setiap harinya pada pukul 3 sore, saat dimana dia biasa menunggu kepulangan tuannya. Namun hari-hari itu adalah saat dirinya tersiksa karena tuannya tidak kunjung tiba.

Dan di suatu pagi, seorang petugas kebersihan stasiun tergopoh-gopoh melapor kepada pegawai keamanan. Sejenak kemudian suasana menjadi ramai. Pegawai itu menemukan tubuh seekor anjing yang sudah kaku meringkuk di pojokan ruang tunggu. Anjing itu sudah menjadi mayat. Hachiko sudah mati. Kesetiaannya kepada sang tuannya pun terbawa sampai mati.

Warga yang mendengar kematian Hachiko segera berduyun-duyun ke stasiun Shibuya. Mereka umumnya sudah tahu cerita tentang kesetiaan anjing itu. Mereka ingin menghormati untuk yang terakhir kalinya. Menghormati sebuah arti kesetiaan yang kadang justru langka terjadi pada manusia.

Mereka begitu terkesan dan terharu. Untuk mengenang kesetiaan anjing itu mereka kemudian membuat sebuah patung di dekat stasiun Shibuya. Sampai sekarang taman di sekitar patung itu sering dijadikan tempat untuk membuat janji bertemu. Karena masyarakat di sana berharap ada kesetiaan seperti yang sudah dicontohkan oleh Hachiku saat mereka harus menunggu maupun janji untuk datang. Akhirnya patung Hachiku pun dijadikan symbol kesetiaan. Kesetiaan yang tulus, yang terbawa sampai mati.

Film ttg kisah hachiko dibuat di jepang tahun 1987 dgn judul “Hachiko  no Monagatari”. Film ini banyak memperoleh penghargaan.

p.s : jelas anjing lebih banyak make hati daripada manusia.

02
Jul
09

cari aman?

backsound : meringkuk – daru (mau denger? silakan minta langsung sama orangnya di kampus)
mood          : scattered

kenapa gw pasang gambar lays? karena lays jadi cemilan gw malam ini, disambi dengan jus jambu. jadi urutannya : lays seaweed – jus jambu – lays salmon teriyaki (bad – g00d – bad mixed up)

hari ini ke margo. berangkat jam stengah 3. tadinya pengen bareng bokap yang mau ke bank ambil duit pensiun. tapi pada akhirnya gw ditinggal dengan nista… akhirnya nyambung angkot karena kereta kencana bernama 04 tak kunjung tiba…

sampe di platinum, niatnya nonton KING, tapi di detik² terakhir di depan mbak² penjual tiket, pilihan berubah ke “garuda di dadaku”. filmnya bagus. ga nyesel. sayangnya mbak – mbak sebelah gw rese karena dia terus²an ber-spoiler ria. ngasih tau adegan² slanjutnya ke temen sebelahnya. monkichi… pengen gw sumpel bangku bioskop tuh mulutnya.

(ngeloyor bentar, cek hape di kamar)

baru cek cdma.. ternyata darce nelp gw 13x… ada apa gerangan?  dari hasil perbincangan, usut punya usut (alah), lagu dia diputer di trax fm. berawal dari ketidaksengajaan yang berlanjut ke perpindahan dari tangan ke tangan sampe ke pihak trax. dan sekarang dia diminta buat betulin demo-nya. dia juga ditawarin jadi keyboardist yang nantinya bisa sepanggung sama the groove.

congratulation for serarola and you, dar :)

(berasa kaya nyingkat ‘darling’ -__-)

pembicaraan berlanjut… dia bilang dengan sgala berkah yang diterimanya itu, dia ngerasa hampa. seharusnya dia seneng (wong gw yang denger aja seneng), tapi ternyata ga. datar.

kenapa?

pengalaman mengajarkan bahwa ketika dia ngalamin sesuatu yang ‘too good to be true’ macem sekarang ini, biasanya bakal diikutin dengan ‘kejatuhan’ yang nyakitin. jadi good things always followed by bad things.

dia ga mau ngerasa terlalu ‘tinggi’ supaya kalo nanti tiba – tiba jatoh, dia ga harus mengalami rasa sakit yang keterlaluan. dia bisa menghindar dari keadaan hancur lebur dan mempertahankan kondisi emosinya di kondisi ‘rata – rata air’.

menohok skali… karena kebetulan gw tipe orang yang berpikir kaya gitu juga. dan berhasil gw terapin stidaknya sampe taun lalu… saking berhasilnya gw terapin sampe akhirnya complain sendiri, ‘kenapa emosi gw slalu flat? kenapa gw ga pernah ngerasa gejolak emosi secara riil?’

dan Tuhan memberikan jawaban-Nya di masa sekarang… bikin gw kelimpungan dan berkali – kali minta supaya bisa balik ke masa ‘flat’ itu.

tapi ga tau deh. kalo flat terus mungkin gw ga akan belajar sesuatu. ga akan bener – bener menghadapi emosi bak masochist dan ga akan mati – matian menekan gangguan kepribadian (atau psikologis?) yang gw khawatirkan ternyata ada dalam diri gw. untung gw ga sampe tahap mensimbolkan rasa sakit lewat nyayat – nyayat pergelangan tangan.

banyak cara yang dipilih beragam orang untuk mensimbolkan + menghapus rasa sakit itu… ada yang sholat, ada yang meditasi, ada yang nulis, ada yang main musik, ada yang jedotin pala, ada yang mukulin orang…

merealisasikan rasa sakit yang abstrak supaya bisa ditangkap panca indra…

yak, gw meracau dan semakin mendekati  cara berpikir orang – orang psycho.

yah, gw masih belom tau… apakah dengan gejolak skarang, pada akhirnya ini bakal jadi siklus yang berulang. gw kembali lagi pada masa ‘flat’.

gw pernah menjadi orang yang ketakutan, orang yang penuh rasa marah, orang yang sombong, orang yang mensyukuri, orang yang datar, dan sbagainya…

beruntung gw punya mekanisme eksternal yang cukup bagus. gw sangat terkejut banyak orang yang bilang gw ini tough. yayaya… at least slama masih ada orang laen di sekitar gw, maka gw ga akan berkubang dalam kesuraman. gw hanya butuh pengalih perhatian.

tulisan yang suram… dan ga jauh beda sama tulisan – tulisan sebelumnya. tapi ya sudahlah. ini blog gw, terserah gw mo nulis apaan dan dalam keadaan emosi apa.

mungkin gw perlu bikin blog lagi yang bisa nampung sisi diri gw yang lain kali ya. hohoho ^^




yang meracau di sini…


atashi no pasocon = lover XD currently busy using her computer. can't live without it. blame it on all my school subjects!

almanak

July 2009
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

kumpulan ocehan terdahulu

apa isi kepala gw?

  • @Riiinnn jiaaah makin lama makin cepet kali yah.. prangkonya banyak tuh.. yg paling mahal pulak. hahaha 2 hours ago
  • im sorry you got the wrong number, so don't call me no more~ 2 hours ago
  • @Riiinnn siplaaah.. udah gw invite tuh rin. kata temen gw sih shari dua hari nyampenya. udah kaya pake pos kilat. hahaha 3 hours ago
  • @Riiinnn cara invitenya gimana yah? xD pake email? 3 hours ago
  • ngutak - ngatik google wave. belom mudeng.. 3 hours ago