23
Oct
09

Tuhan Maklumilah aku

backsound : drive – ode
mood           : hmph

Tuhan, bisakah aku menerima hukum – hukum Mu tanpa meragukannya lebih dahulu? Karena itu Tuhan, maklumilah lebih dulu bila aku masih ragu akan kebenaran hukum-hukum-Mu. Kalau Engkau tak suka hal ini, berilah aku pengertian – pengertian sehingga keraguan itu hilang dan cepat – cepatlah aku dibawa dari tahap keragu-raguan kepada tahap penerimaan.


Tuhan, murkakah Engkau bila aku berbicara denganMu dengan hati dan otak yang bebas, hati dan otak yang Engkau sendiri telah berikan padaku dengan kemampuan – kemampuan bebasnya sekali? Tuhan, murkakah Kau bila otak dengan kemampuan – kemampuan mengenalnya yang engkau berikan itu menggunakan sepenuh – penuhnya kemampuan itu?


Tuhan, aku ingin berbicara dengan Engkau dalam suasana bebas. Aku percaya bahwa Engkau tidak hanya benci pada ucapan – ucapan yang munafik, tapi juga benci pada pikiran – pikiran yang munafik, yaitu pikiran – pikiran yang tidak berani memikirkan yang timbul dalam pikirannya, atau pikiran – pikiran yang pura – pura tidak tahu akan pikirannya sendiri.

9 Juni 1967

(dikutip dari buku ‘Pergolakan Pemikiran Islam : Catatan Harian Ahmad Wahib’, hlm. 30 -31)

gw pikir nih buku isinya bakal tentang Islam dan politik yang dikupas scara kritis… ternyata isinya catetan harian… dan ga cuma tentang Islam aja. bahkan Ahmad Wahib ngomongin masa kecil dia yang sempet ngerasain lingkungan pesantren, diasuh sama keluarga Katolik, dan punya temen² baik dari PKI. dia juga ngomong tentang seni, pertunjukan teater, dan nyeritain perasaan dia tentang orang yang dia suka… sayang dia meninggal muda. tulisannya bagus² deh :)

—–

p.s 1 : aku berpikir bebas terhadap Tuhan. maka aku ingin Dia tau bahwa aku tidak mau kehilangan apa yang sedang datang kepadaku sekarang. aku tak bersalah dan berhak bahagia. yang membuatku menahan diri adalah moral. moral yang terdistorsi kesalahpahaman

p.s 2 : buku ini punya eyang gw. hadiah dari nyokap taun 1982 buat jadi bahan bacaan di kreta slama perjalanan dari Jakarta ke Surabaya. aih… nostalgia.. :mrgreen:


4 Responses to “Tuhan Maklumilah aku”


  1. 1 uchi
    October 28, 2009 at 1:23 am

    seandainya bisa mengungkapkan pikiran dengan kalimat seperti ini, mungkin aku ga bakal dicerca banget

    mantab gan

  2. November 7, 2009 at 5:50 am

    Tuhan, murkakah Engkau bila aku berbicara denganMu dengan hati dan otak yang bebas, hati dan otak yang Engkau sendiri telah berikan padaku dengan kemampuan – kemampuan bebasnya sekali? Tuhan, murkakah Kau bila otak dengan kemampuan – kemampuan mengenalnya yang engkau berikan itu menggunakan sepenuh – penuhnya kemampuan itu?

    saya rasa nggak. asal jangan sampe mikir wujud tuhan itu kek apa?! :D

    • 4 tsukinohooseki
      November 7, 2009 at 10:41 am

      oh itu mah kagak berani sayah. hihihihi.. cuma ya kan gitu, kadang kita takut kelewat batas dalam hal berpikir karena takut murka Tuhan.. :lol:

      dan bukunya skarang hilaaaang! kmana raibnya itu benda ya.. huhuhu


Leave a Reply




yang meracau di sini…


atashi no pasocon = lover XD currently busy using her computer. can't live without it. blame it on all my school subjects!

almanak

October 2009
M T W T F S S
« Sep   Nov »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

kumpulan ocehan terdahulu

apa isi kepala gw?