Archive for the 'tang - THINK - tung' Category

06
Nov
09

Interview with God

backsound : Mariah Carey – I Stay in Love with You
mood            : thoughtful

 

udah beberapa hari yang lalu sih bacanya… dari blog oceh. trus nyari – nyari di internet dan nemu lagi.

seinget gw nyokap punya bukunya… tapi entah raib ke mana dia. giliran ga dicari, muncul. giliran dibutuhin, lenyap blas tak berbekas.

————————-

I dreamt I had an interview with God. “Come in,” God said. “So, you would like to interview Me?”

“If you have the time,” I said.

God smiled and said: “My time is eternity and is enough to do everything; what questions do you have in mind to ask me?”

“What surprises you most about mankind?”

God answered:

  • “That they get bored of being children, are in a rush to grow up, and then long to be children again.
  • That they lose their health to make money and then lose their money to restore their health.
  • That by thinking anxiously about the future, they forget the present, such that they live neither for the present nor the future.
  • That they live as if they will never die, and they die as if they had never lived…”



God’s hands took mine and we were silent for a while and then I asked…“As a parent, what are some of life’s lessons you want your children to learn?”

God replied with a smile:

  • “To learn that they cannot make anyone love them. What they can do is to let themselves be loved.
  • To learn that what is most valuable is not what they have in their lives, but who they have in their lives.
  • To learn that it is not good to compare themselves to others. All will be judged individually on their own merits, not as a group on a comparison basis!
  • To learn that a rich person is not the one who has the most, but is one who needs the least.
  • To learn that it only takes a few seconds to open profound wounds in persons we love, and that it takes many years to heal them.
  • To learn to forgive by practicing forgiveness.
  • To learn that there are persons that love them dearly, but simply do not know how to express or show their feelings.
  • To learn that money can buy everything but happiness.
  • To learn that two people can look at the same thing and see it totally differently.
  • To learn that a true friend is someone who knows everything about them…and likes them anyway.
  • To learn that it is not always enough that they be forgiven by others, but that they have to forgive themselves.”

I sat there for a while enjoying the moment. I thanked Him for his time and for all that He has done for me and my family, and He replied, “Anytime. I’m here 24 hours a day. All you have to do is ask for me, and I’ll answer.”

———-

p.s 1 : gw pikir ga ada salahnya sedikit ‘memanusiakan’ Tuhan kaya tulisan di atas. ini cuma smacem sarana untuk menjelaskan bahwa sbenernya Tuhan begitu dekat sama kita.

p.s 2 : membiarkan diri kita dicintai… terus terang gw belom terlalu ngerti. smua orang pengen dicintai kan?

31
Oct
09

mari bicara cinta…

backsound : Hugh Grant & Haley Bennett – Way Back into Love
mood           :calm

gw yang dulu pasti nganggep kalo judul di atas njiji’i.

cinta? apa ituh? terdengar cheesy skali. pas film AADC keluar. dalem hati gw bilang : ‘ga ada nama laeeen?’

dan waktu ada toko aksesoris deket rumah gw yang dikasih nama ‘toko cinta’, gw mendengus. pun stelah gw mendengar alasan toko itu dinamain kayak bgitu: karena anak si pemilik toko namanya ‘cinta’. rrrrrrrrrr~!!!!

c-i-n-t-a. kalo 5 huruf itu berdiri sendiri², they won’t bother me. tapi ktika mreka berjejer berurutan. rasanya gw mau menggelinjang. entah kenapa itu perpaduan huruf yang norak.

‘aku cinta kamu’ kdengeran murahan.

gw ga keberatan ktika kata itu diterjemahkan ke bahasa laen. ‘love’, ‘ai’, ‘tresno’, dll kdengeran mendingan. tapi ktika dimelayukan, MASAOLOOOOOH.. i can’t stand for it.

yah tapi itu duluuu… skarang mah biasa aja. meskipun gw masih bersikeras ga akan namain anak atau tempat usaha dengan nama ‘cinta’.

———-

jadi apa tujuan gw nulis postingan kaya gini?

karena saya mendadak inget crita nyokap tentang Prof. Dr. Soerjono Soekanto beserta sang istri.

(yang anak Sosiologi, atau minimal anak FISIP, pasti ga asing sama nama beliau :mrgreen: )

kisah pasangan pak Soekanto & istrinya mungkin salah satu kisah romansa termanis yang pernah gw denger.

pak Soekanto sering main piano bareng istrinya. beliau main piano untuk istrinya, dan bgitu juga sbaliknya. piano jadi alat musik yang menemani kehidupan mereka.

sampe ktika pak Soekanto sakit.

Nyokap crita kalo sakitnya bikin beliau kena amnesia. ga ada 1 hal pun yang bisa beliau inget. otaknya kaya di-reset. kemampuan main piano ilang, bahkan istrinya pun ga ada di ingetan dia.

pasti berat rasanya, dilupain sama orang yang kita sayangin. dan itu bukan sesuatu yang disengaja. seakan – akan eksistensi kita ga ada di dalem hidup orang yang kita sayang itu. buat dia, kita bukan siapa – siapa.

kita mau jungkir balik kayak gimana pun juga tetep aja… apa yang kita lakuin ga signifikan buat orang itu.


tapi toh  sang istri ga nyerah. beliau berusaha buat nyembuhin suaminya.


dan piano adalah media yang sangat membantu proses penyembuhan.

pelan – pelan, istri pak Soekanto ngajarin beliau main piano lagi. step by step. mulai dari tangga nada dasar lagi. bener – bener perlahan, sampe akhirnya ingetan pak Soekanto balik lagi. tentang piano, tentang ilmu – ilmu yang udah beliau pelajari, dan pastinya, ingetan tentang sang istri.


dan tentunya itu makan waktu yang ga sedikit.


nyokap juga bilang, bahkan ingetan pak Soekanto ga kembali 100% sampe akhirnya beliau meninggal.

tapi berkat keteguhan sang istri, pak Soekanto ‘kembali jadi manusia’.


gw pikir crita kaya gini cuma ada di film atau novel aja. ternyata beneran terjadi di dunia nyata…

mungkin ini contoh yang tepat buat ngegambarin kasih sayang seseorang yang bener² ikhlas.

yang dipikirin cuma :

‘gimana cara orang yang gw kasihi bisa sembuh’.


bayangin aja, kalo kita dianggap bukan siapa², mau ngobrol juga susah kan. ga bakal nyambung… harus nahan keinginan² untuk dapet perhatian balik, untuk menerima afeksi. dan spanjang waktu harus terus ‘memberi’…

gw orang normal yang pernah ngerasain belajar piano aja kadang suka ampun²an bosen + enegnya. dan gw pernah dapet guru yang kayaknya lumayan frustrasi ngajarin gw saking batunya gw.

gimana pak Soekanto & istri?

yang menggunakan piano buat me-recall ingetan² tentang mereka berdua.. sambil belajar do re mi, berusaha nginget kenangan – kenangan apa aja yang mereka punya… piano yang menghubungkan itu.


Hhhhhhhhhhhhhhhh (mendesah keterlaluan panjangnya)

 

—-

p.s 1 : gw lagi platonis. moga² ga angin²an deh. rasanya tenang.

p.s 2 : melepaskan untuk memberi… kalau ternyata hasilnya positif, anggeplah itu bonus yang bakal gw syukuri seumur hidup.

23
Oct
09

Tuhan Maklumilah aku

backsound : drive – ode
mood           : hmph

Tuhan, bisakah aku menerima hukum – hukum Mu tanpa meragukannya lebih dahulu? Karena itu Tuhan, maklumilah lebih dulu bila aku masih ragu akan kebenaran hukum-hukum-Mu. Kalau Engkau tak suka hal ini, berilah aku pengertian – pengertian sehingga keraguan itu hilang dan cepat – cepatlah aku dibawa dari tahap keragu-raguan kepada tahap penerimaan.


Tuhan, murkakah Engkau bila aku berbicara denganMu dengan hati dan otak yang bebas, hati dan otak yang Engkau sendiri telah berikan padaku dengan kemampuan – kemampuan bebasnya sekali? Tuhan, murkakah Kau bila otak dengan kemampuan – kemampuan mengenalnya yang engkau berikan itu menggunakan sepenuh – penuhnya kemampuan itu?


Tuhan, aku ingin berbicara dengan Engkau dalam suasana bebas. Aku percaya bahwa Engkau tidak hanya benci pada ucapan – ucapan yang munafik, tapi juga benci pada pikiran – pikiran yang munafik, yaitu pikiran – pikiran yang tidak berani memikirkan yang timbul dalam pikirannya, atau pikiran – pikiran yang pura – pura tidak tahu akan pikirannya sendiri.

9 Juni 1967

(dikutip dari buku ‘Pergolakan Pemikiran Islam : Catatan Harian Ahmad Wahib’, hlm. 30 -31)

gw pikir nih buku isinya bakal tentang Islam dan politik yang dikupas scara kritis… ternyata isinya catetan harian… dan ga cuma tentang Islam aja. bahkan Ahmad Wahib ngomongin masa kecil dia yang sempet ngerasain lingkungan pesantren, diasuh sama keluarga Katolik, dan punya temen² baik dari PKI. dia juga ngomong tentang seni, pertunjukan teater, dan nyeritain perasaan dia tentang orang yang dia suka… sayang dia meninggal muda. tulisannya bagus² deh :)

—–

p.s 1 : aku berpikir bebas terhadap Tuhan. maka aku ingin Dia tau bahwa aku tidak mau kehilangan apa yang sedang datang kepadaku sekarang. aku tak bersalah dan berhak bahagia. yang membuatku menahan diri adalah moral. moral yang terdistorsi kesalahpahaman

p.s 2 : buku ini punya eyang gw. hadiah dari nyokap taun 1982 buat jadi bahan bacaan di kreta slama perjalanan dari Jakarta ke Surabaya. aih… nostalgia.. :mrgreen:

27
Sep
09

Kita (seringkali) Sulit Memahami Cara – Nya Bekerja.

backsound : boyz II men – water runs dry
mood           : toughtful

“Berbuat baiklah pada diri sendiri dan orang lain.”

Gw yakin agama, (kebanyakan) keluarga, dan sekolah selalu mengajarkan hal di atas ke anak – anak. Selain dapet pahala, mereka juga bilang kalo kita berbuat baik, nanti pasti kita juga dapet balesan kebaikan dari orang lain. Yang lain bilang, dengan berbuat baik kita bakal terhindar dari karma buruk dan bisa melanjutkan ke tingkat kehidupan yang lebih baik.

Agak pamrih emang ajaran macem bgini, ngutamain reward, tapi stidaknya masih bisa untuk ngedidik anak – anak jadi pribadi yang diharapkan masyarakat.

Gw juga sering denger para tetua mewanti – wanti kalo kita ga boleh berbuat jahat karena bakal ada balesannya juga. Misalnya kalo lagi nyeritain sodara, temen, atau tetangga yang kena masalah, biasanya mereka suka nambahin embel – embel :

“tuh kan, dia jadi sakit parah. Itu gara – gara dulu dia sombong, suka kasar sama orang lain..”

“si anu rumahnya kebakar abis, smua keluarganya ikut meninggal. Gara – gara pelit tuh, kurang sedekah.”

“orang jahat kaya gitu biar Allah yang bales. Allah ga tidur.”

(Kalimat terakhir terus terang bikin gw sensi. Emangnya lo siapa bisa membuat Tuhan seakan – akan jahat? Kenapa lo membebankan keinginan lo buat balas dendam melalui Tuhan? )

Ajaran di atas di atas ngga salah, emang bgitulah hidup kalo dirangkum dalam sebuah rumus. Baik dibalas baik, buruk dibalas buruk. selalu ada reaksi atas terjadinya segala aksi di semesta ini.

Tapi sekeras apapun kita berusaha untuk merumuskan sesuatu, selalu ada pengecualian – pengecualian. Dan gw mulai penasaran tentang hal ini pas ngunjungin temen SMP gw yang baru ngelahirin.

Bayinya cantik banget, adorable. Selain karena rambutnya tebel, kulitnya putih, dan besarnya yang ideal, gw bilang si bayi cantik karena dia memunculkan perasaan khusus dalem diri gw (lebay? Entahlah, namanya juga feeling. Hahaha).

Ga ke semua bayi gw punya perasaan kaya gini. Dia bikin gw damai. Selain itu, dia sama sekali ga rewel dan sering senyum. Yap, senyum! Dia lovable sekali ^^

Temen gw bilang kalo dia bersyukur banget anaknya bisa lahir tanpa kekurangan apapun. Padahal sebelum ngelahirin, dia bilang takut banget bakal dikutuk Tuhan.


“lo tau kan dosa – dosa apa aja yang udah gw lakuin dari dulu. Pas lagi hamil pun gw ngerokok mulu, minum sampe mabok, kcanduan kopi pula. Gw ngerasa diberkati banget sama Tuhan. Tadinya gw takut banget bakal dikutuk. Kalopun harus, gw berdoa jangan anak gw yang nanggung dosa, biar gw aja.”

Temen gw ini juga bersyukur banget dia bisa awet sama orang yang jadi suaminya sekarang. Setelah 7 taun pacaran, akhirnya mereka nikah. Suaminya tipe orang yang punya kemauan keras, tapi family man sekali. Bokap temen gw ini kena sakit parah dan waktu mereka belom nikah, suaminya bener – bener ngurus bokapnya itu. Bahkan sampe soal bersihin kotoran dan segala macemnya. Secara finansial pun dia juga udah cukup mapan.

Temen gw ngerasa dia belom ngasih apa – apa sementara suaminya udah banyak ngebantu hidup dia. Bahkan sambil ketawa dia ngaku : “gw nih cuek banget sama keluarga suami gw. Tapi mertua selalu dateng buat nyediain keperluan gw.”

Cerita temen gw ini bikin mikir. Kasarnya, dia udah bejat banget tapi masih dikasih berkah yang luar biasa banyaknya. Sementara di lain sisi, gw juga kenal orang – orang baik yang nasibnya udah kaya bawang putih di sinetron, menderita. Mereka berbuat baik tapi seakan – akan harus menempuh ‘perjalanan panjang’ supaya bisa dapet balesan dari semua perbuatan baik yang mereka lakuin.

Ada yang belajar dengan cara yang keras dan ada yang ditegur dengan cara yang indah.

Akhirnya gw cuma bisa mengakui kalo gw belom mengerti cara-Nya bekerja. Terlalu ajaib.

p.s 1 : if reincarnation really exist, something really wrong must be happened in my past life.

p.s 2 : ada yang tau angka romawi “0’? temen gw mau bikin tattoo tanggal lahir anaknya :)

07
Sep
09

listening is healing.

backsound : sigur ros – Njosnavelin
mood            : thoughtful

Setelah kemaren meracau kaya orang yang lagi di bawah ketergantungan obat dan terdengar sangat positif sekali, sekarang grafik gw agak menurun.

sedikit negatif, tapi hanya di awang – awang, tidak berkubang.

(Mr Last Resort loves this words. apparently, my melancholic side has positive impact. penggunaan kata – kata jadi lebih kreatif dan makin mirip pujangga :lol: )


sekarang hampir pukul dua pagi… masih aja nyalang. bukan tanpa alasan juga, karena setelah berhasil sedikit mengorek diri seorang kawan, sekarang dia lagi menuturkan kisah²nya yang ternyata udah lama ditumpuk, menyebabkan munculnya stress terselubung. cirinya mudah dikenali, dia tertawa saat bersama orang² tapi ternyata barusan dia ngaku kemaren malem baru nangis sendirian di kamar dan ngerasa ga punya siapa².


sebenernya penurunan ‘grafik’  gw juga mengakibatkan gw butuh orang laen untuk jadi tempat cerita. Tapi ternyata prakteknya gw bisa tersembuhkan ketika mendengarkan orang lain. jadi skarang saya bahik – bahik sajaaaaa ^^ cuma perlu lebih yakin meskipun bakal susah banget yakin :mrgreen:


kembali ke persoalan temen gw yang curhat ini, dia ngerasa menyedihkan aja karena belakangan ini ga bisa mengelola perasaan sendiri. bawaannya mellow, ga tau gimana caranya bikin diri sendiri lebih positif. akibatnya, dari tadi dia bolak – balik bilang : ‘ganti topik! cari obrolan laen’. atau ‘gw harus berusaha mikir positif donk ya’.


ga salah sih berusaha kaya gitu, niat lo untuk bisa jadi lebih positif aja udah bagus banget. ga sampe kaya orang depresi berat yang bahkan ga pengen lagi nyari kebahagiaan hidup.

hanya saja, gw pribadi bukan orang yang selalu berusaha untuk mempositifkan diri ketika gw lagi ga mampu. bukannya ga mau, tapi ga punya energi lebih untuk ’switch’ pikiran ke tombol lambang ‘(+)’. :mrgreen:

gw terbiasa untuk berdamai dulu dengan fase down dan kemudian baru cari solusi buat ngatasin itu. kalo ngutip kata² tamu di acara Oprah, ‘menjadi lebih manusia ketika merasakan kesedihan’. dan itu ga terjadi sekali, tapi berkali – kali.

temen gw ini minta saran untuk salah satu dari sekian banyak masalahnya, dia tanya : ‘gimana caranya ngelupain orang yang lo suka?’

kenapa harus dilupain? melupakan cuma mekanisme sementara yang bakal membuat lo lebih meledak lagi kalo suatu saat nanti kena pemicunya. ini ga cuma soal orang yang kita suka aja, tapi untuk masalah apapun. melupakan bukan cara yang baik.

kalo emang masih suka sama seseorang, nikmati aja rasa suka lo itu. kalo beruntung, rasa suka itu bakalan jadi sesuatu yang positif. lebih nrimo, ga menggebu-gebu, dan platonis mungkin :mrgreen:

sampe nanti akhirnya lo akan mencapai tahap baru yang bakalan membuat lo lebih positif dan bener² sadar tentang apa yang dimaksud ‘menyayangi seseorang’ itu.

mungkin lo emang sayang dia, atau mungkin itu cuma obsesi.manusia jelas butuh waktu untuk mengenali dirinya sendiri, termasuk pikiran & perasaannya.

intinya, kita akan belajar lebih banyak ktika berdamai dengan masalah, stress, depresi, kesedihan, dll daripada berusaha ngelupain dan cari pengalihan dalam bentuk lainnya. kita akan menjadi lebih sadar untuk ’sembuh’ dari luka yang ditimbulin masalah daripada cuma nutup luka itu doank tanpa ada usaha pengobatan.


dan seneng juga rasanya karena gw nemuin artikel yang mirip dengan pendapat gw. ditulis reza gunawan.

—–

p.s : happy birthday to you ^__^

25
Aug
09

what if

backsound : mew – sometimes life isn’t easy
mood           : calm

Thinking about everything.
Why did you stop?
You don’t know what it’s like.

Don’t you know sometimes,
When it feels like someone put a hex on you?
Well, I felt like that.
I was blaming myself.
I was cushioning my fall.

Hold my arms back when they beat me,
Leave me in the ditch where they kick me,
Sever my limbs and deceive me.

Sometimes life isn’t easy.

Here we go.
Here we go.
I’m surprised in you,
Here we go.

Beside you,
I’m like you.
I’m lost in your doubt,
Sprawling, sprawling, sprawling.

(mew – sometimes life isn’t easy)


Nagih denger Mew… sbenernya backsoundnya ganti² sih. skarang lagi homogenic – utopia. Sbelomnya nyetel homogenic – kekal berulang². kenapa gw sekarang lagi suka lagu² yang bikin bengong?


detik – detik menjelang berbuka puasa… dan gw baru aja baca satu artikel. karena artikel itu, gw bengong maghrib².


jadi bgini. ketika lo merasakan udah menemukan orang yang tepat, yang akan mampu berjalan bareng lo mengarungi kehidupan sampai akhirnya dipisahkan kematian, dan (semoga) dipertemukan lagi di kehidupan selanjutnya yang lebih baik, indah, dan luar biasa…

tapi ternyata dia ga seutuhnya berada dalam gendernya?

aeh, can’t find the right word. errr.. gimana ya..

gini deh, kasih contoh.


misalnya, ada dua orang saling sayang, si cowo siap buat ngelamar si cewe. pokoknya udah mantap abis²an deh pikiran+hatinya. sehari sebelom pernikahan, tiba² si cewe ngaku kalo dulu (atau mungkin masih sampe skarang) dia hermaphrodite yang dua genitalnya sama aktifnya.

atau sebaliknya. si cowo yang kaya gitu..

kasus lain,

misalnya si cewe menderita kelainan.. amenorea primer atau amenoera sekunder. (apa itu amenorea primer/sekunder? cari sendiri yak :mrgreen: )


bakal ada persoalan – persoalan yang muncul… entah karena ga terpenuhinya kebutuhan dasar, ga terpenuhinya angan – angan pasangan itu, ga terjawabnya tuntutan dari orang – orang sekitar mreka, atau karena ada hal – hal lain..


what would the guy do to cope with that fact? is he going to leave his beloved one?


apakah permasalahan ‘antara laki – laki dan perempuan’ dengan segala atribut yang mereka bawa bisa diilangin? kalau – kalau terjadi masalah seperti yang di atas?


berapa banyak orang yang menikah dengan seseorang yang jadi plihannya karena tuntutan keluarganya?

berapa banyak orang yang menikah dengan seseorang yang jadi pilihannya karena butuh penyaluran hasratnya?

berapa banyak orang yang menikah dengan seseorang yang jadi pilihannya karena pengen punya keturunan yang bisa dia bentuk sesuai kehendak dia dan bisa ngelanjutin usaha yang dia punya?

berapa banyak orang yang menikah dengan seseorang yang jadi pilihannya karena dia bener-bener mencintai orang pilihannya itu sebagaimana dia adanya?


absurd sekali tulisan ini… dan gw ga punya keinginan untuk membuatnya lebih jelas.

——————

p.s : i might not completely a woman as well… kekacauan dominasi kromosom mungkin? :lol:

10
Aug
09

ignorance is a bliss.

backsound : Glen Hansard – Falling Slowly
Mood           : Ok

credit to whoever owned this pic on flickr

credit to steffe@flickr

Gw ga jadi nonton MEW. but it successfully replaced by bowling, laughter, good friends, and good stories.  yah meskipun tetep ada sdikit goresan di hati, sdikit berdarah, dan sdikit pedih karena i didn’t get the MEWracle to watch MEW.

(sbenernya gw rela ga sih? :lol: )

rela kok. hari ini menyenangkan karena gw bersama orang² yang menyenangkan juga ^^

tengah malem gini adalah waktu favorite gw dan sekaligus sering menjadi waktu kumatnya depresi gw. mungkin karena gw sendirian.

barusan ngisi kuesioner depresi dan skor gw 21. kaget juga. bisa aja sih kuesionernya ga ngukur atau gimana. ada bagian dari diri gw yang ga suka divonis. tapi bagian diri yang lain terus nyari tau ada apa dengan diri gw dan gimana solusinya.

trus gw browsing lagi. yak, gw punya semua ciri primer dan sbagian besar ciri sekunder depresi. lanjut lagi… searching di kompas. lagi – lagi kok gangguan fisik gw disebutin semua di situ?


tapi malem ini gw cukup stabil dan positif. meskipun pikiran² mengerikan itu ada.

kenapa jadi ngomongin gangguan gw?

sbenernya ada kaitannya sih dengan judul postingan ini, dan hal ini juga udah sempet gw singgung di postingan sebelomnya. hal ini pula yang jadi salah satu kesimpulan dari pembicaraan panjang lebar antara gw dengan kakanda yang satu ini di teras rumah gw :mrgreen:

bahwa terlalu banyak tahu itu ternyata tidak menyenangkan. lebih baik tidak tahu tentang beberapa hal dan menjadi sedikit lebih bahagia.

selama ini gw cukup kekeuh dengan prinsip gw, yaitu : semakin banyak tau, gw akan semakin tenang, bisa menguasai keadaan, dan ngambil keputusan terbaik.

tapi toh ternyata selama bertaun – taun ini ketika gw dihadapkan dengan fakta yang dateng secara bertubi – tubi, gw kehantam. jatoh. bangun lagi dan berpikir, mencerna. trus jatoh lagi. dan itu siklik.

puncaknya 2009 ini, ketika gw merasa semua persoalan (bahkan yang muncul dari taun – taun sbelomnya dan udah hampir kekubur) keliatannya berusaha untuk mengimpit gw.

dan kayanya inilah penyebab gw depresi : ‘tau terlalu banyak’.

gw menyadari selama ini tujuan gw mencari tau adalah untuk mempersiapkan diri supaya ga ‘jatuh’ terlalu dalem, bisa ngatasin rasa sakit  skaligus belajar dari rasa sakit itu, dan memperbaiki keadaan.

tapi apa efek negatifnya? gw kehilangan spontanitas, takut mengambil keputusan, dan mendapatkan beberapa ketakutan baru yang sbenernya sangat irrasional tapi IT HAPPENS TO MEH~!! (histeris mendadak :lol: )

sampe skarang pun gw masih belom bisa sepenuhnya menerapkan ‘ignorance is a bliss’ ini. bawaan gw masih mau tauuuu aja. dan ga bisa dipungkiri gw mendapatkan dua hal yang kontradiktif dan pencarian gw itu, rasa tenang skaligus rasa sakit.

gw jadi tenang karena tau, tapi sakit.

gw sakit karena tau, tapi  jadi tenang.


(jiahahaha lucu juga kata² yang sama bisa disusun beda gini :lol: )


pengen deh nantinya bisa sampe pada kondisi di mana gw bisa memilih mana yang bisa dan mau gw ketahui, mana yang tidak. ga mau ‘falling slowly’ kaya lagu yang jadi backsound selama gw nulis postingan ini :lol:

gw ngerasa lebih ringan dan cukup terinspirasi oleh obrolan gw & si kakanda malem ini. dan sangat mensyukuri gw bisa menghabiskan waktu dengan orang² yang menyenangkan dan membuat gw nyaman.


gracias, amigos :mrgreen:

17
Jul
09

Belajar Kesetiaan pada Hachiko

backsound :  Satie – Gymnopedie No. 1
Mood          : blue

Repost dari “Inspiring Stories II (Kisah – kisah Pembangun Jiwa” yang diposting oleh Budi Hidayat.


Sedikit komen, gw udah cukup lama pernah baca kisah ini sebelumnya di satu majalah yang gw lupa judulnya. Dan sekarang, untuk kesekian kalinya setelah gw baca kisah si anjing yang luar biasa setia ini, nyokap mengira gw yang lagi terdiam di depan komputer, secara misterius kena flu berat mendadak :mrgreen:

Hachiko dog statue in Shibuya

Di Kota Shibuya, Jepang, tepatnya di alun-alun sebelah timur Stasiun Kereta Api Shibuya, terdapat patung yang sangat termasyur. Bukan patung pahlawan ataupun patung selamat datang, melainkan patung seekor anjing. Dibuat oleh Ando Takeshi pada tahun 1935 untuk mengenang kesetiaan seekor anjing kepada tuannya.

Seorang Profesor setengah tua tinggal sendirian di Kota Shibuya. Namanya Profesor Hidesamuro Ueno. Dia hanya ditemani seekor anjing kesayangannya, Hachiko. Begitu akrab hubungan anjing dan tuannya itu sehingga kemanapun pergi Hachiko selalu mengantar.

Profesor itu setiap hari berangkat mengajar di universitas selalu menggunakan kereta api. Hachiko pun setiap hari setia menemani Profesor sampai stasiun. Di stasiun Shibuya ini Hachiko dengan setia menunggui tuannya pulang tanpa beranjak pergi sebelum sang profesor kembali.

Dan ketika Profesor Ueno kembali dari mengajar dengan kereta api, dia selalu mendapati Hachiko sudah menunggu dengan setia di stasiun. Begitu setiap hari yang dilakukan Hachiko tanpa pernah bosan.

Musim dingin di Jepang tahun ini begitu parah. Semua tertutup salju. Udara yang dingin menusuk sampai ke tulang sumsum membuat warga kebanyakan enggan ke luar rumah dan lebih memilih tinggal dekat perapian yang hangat.

Pagi itu, seperti biasa sang Profesor berangkat mengajar ke kampus. Dia seorang profesor yang sangat setia pada profesinya. Udara yang sangat dingin tidak membuatnya malas untuk menempuh jarak yang jauh menuju kampus tempat ia mengajar. Usia yang semakin senja dan tubuh yang semakin rapuh juga tidak membuat dia beralasan untuk tetap tinggal di rumah. Begitu juga Hachiko, tumpukan salju yang tebal dimana-mana tidak menyurutkan kesetiaan menemani tuannya berangkat kerja. Dengan jaket tebal dan payung yang terbuka, Profesor Ueno berangkat ke stasun Shibuya bersama Hachiko.

Tempat mengajar Profesor Ueno sebenarnya tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya. Tapi memang sudah menjadi kesukaan dan kebiasaan Profesor untuk naik kereta setiap berangkat maupun pulang dari universitas.

Kereta api datang tepat waktu. Bunyi gemuruh disertai terompet panjang seakan sedikit menghangatkan stasiun yang penuh dengan orang-orang yang sudah menunggu itu. Seorang awak kereta yang sudah hafal dengan Profesor Ueno segera berteriak akrab ketika kereta berhenti.

Ya, hampir semua pegawai stasiun maupun pegawai kereta kenal dengan Profesor Ueno dan anjingnya yang setia itu, Hachiko.. Karena memang sudah bertahun-tahun dia menjadi pelanggan setia kendaraan berbahan bakar batu bara itu.

Setelah mengelus dengan kasih sayang kepada anjingnya layaknya dua orang sahabat karib, Profesor naik ke gerbong yang biasa ia tumpangi. Hachiko memandangi dari tepian balkon ke arah menghilangnya profesor dalam kereta, seakan dia ingin mengucapkan, “Saya akan menunggu tuan kembali.”

“Anjing manis, jangan pergi ke mana-mana ya, jangan pernah pergi sebelum tuan kamu ini pulang!”, teriak pegawai kereta setengah berkelakar. Seakan mengerti ucapan itu, Hachiko menyambut dengan suara agak keras, “Guukh!”

Tidak berapa lama petugas balkon meniup peluit panjang, pertanda kereta segera berangkat. Hachiko pun tahu arti tiupan peluit panjang itu. Makanya dia seakan-akan bersiap melepas kepergian profesor tuannya dengan gonggongan ringan. Dan didahului semburan asap yang tebal, kereta pun berangkat. Getaran yang agak keras membuat salju-salju yang menempel di dedaunan sekitar stasiun sedikit berjatuhan.

Di kampus, Profesor Ueno selain jadwal mengajar, dia juga ada tugas menyelesaikan penelitian di laboratorium. Karena itu begitu selesai mengajar di kelas, dia segera siap-siap memasuki lab untuk penelitianya. Udara yang sangat dingin di luar menerpa Profesor yang kebetulah lewat koridor kampus.

Tiba-tiba ia merasakan sesak sekali di dadanya. Seorang staf pengajar yang lain yang melihat Profesor Ueno limbung segera memapahnya ke klinik kampus. Berawal dari hal yang sederhana itu, tiba-tiba kampus jadi heboh karena Profesor Ueno pingsan. Dokter yang memeriksanya menyatakan Profesor Ueno menderita penyakit jantung, dan siang itu kambuh.. Mereka berusaha menolong dan menyadarkan kembali Profesor. Namun tampaknya usaha mereka sia-sia. Profesor Ueno meninggal dunia.

Segera kerabat Profesor dihubungi. Mereka datang ke kampus dan memutuskan membawa jenazah profesor ke kampung halaman mereka, bukan kembali ke rumah Profesor di Shibuya.

Menjelang malam udara semakin dingin di stasiun Shibuya. Tapi Hachiko tetap bergeming dengan menahan udara dingin dengan perasaan gelisah. Seharusnya Profesor Ueno sudah kembali, pikirnya.

Sambil mondar-mandir di sekitar balkon Hachiko mencoba mengusir kegelisahannya. Beberapa orang yang ada di stasiun merasa iba dengan kesetiaan anjing itu. Ada yang mendekat dan mencoba menghiburnya, namun tetap saja tidak bisa menghilangkan kegelisahannya.

Malam pun datang. Stasiun semakin sepi. Hachiko masih menunggu di situ. Untuk menghangatkan badannya dia meringkuk di pojokan salah satu ruang tunggu. Sambil sesekali melompat menuju balkon setiap kali ada kereta datang, mengharap tuannya ada di antara para penumpang yang datang.

Tapi selalu saja ia harus kecewa, karena Profesor Ueno tidak pernah datang. Bahkan hingga esoknya, dua hari kemudian, dan berhari-hari berikutnya dia tidak pernah datang. Namun Hachiko tetap menunggu dan menunggu di stasiun itu, mengharap tuannya kembali. Tubuhnya pun mulai menjadi kurus.

Para pegawai stasiun yang kasihan melihat Hachiko dan penasaran kenapa Profesor Ueno tidak pernah kembali mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Akhirnya didapat kabar bahwa Profesor Ueno telah meninggal dunia, bahkan telah dimakamkan oleh kerabatnya.

Mereka pun berusaha memberi tahu Hachiko bahwa tuannya tak akan pernah kembali lagi dan membujuk agar dia tidak perlu menunggu terus. Tetapi anjing itu seakan tidak percaya, atau tidak peduli. Dia tetap menunggu dan menunggu tuannya di stasiun itu, seakan dia yakin bahwa tuannya pasti akan kembali. Semakin hari tubuhnya semakin kurus kering karena jarang makan.

Akhirnya tersebarlah berita tentang seekor anjing yang setia terus menunggu tuannya walaupun tuannya sudah meninggal. Warga pun banyak yang datang ingin melihatnya. Banyak yang terharu. Bahkan sebagian sempat menitikkan air matanya ketika melihat dengan mata kepala sendiri seekor anjing yang sedang meringkuk di dekat pintu masuk menunggu tuannya yang sebenarnya tidak pernah akan kembali. Mereka yang simpati itu ada yang memberi makanan, susu, bahkan selimut agar tidak kedinginan.

Selama 9 tahun lebih, dia muncul di station setiap harinya pada pukul 3 sore, saat dimana dia biasa menunggu kepulangan tuannya. Namun hari-hari itu adalah saat dirinya tersiksa karena tuannya tidak kunjung tiba.

Dan di suatu pagi, seorang petugas kebersihan stasiun tergopoh-gopoh melapor kepada pegawai keamanan. Sejenak kemudian suasana menjadi ramai. Pegawai itu menemukan tubuh seekor anjing yang sudah kaku meringkuk di pojokan ruang tunggu. Anjing itu sudah menjadi mayat. Hachiko sudah mati. Kesetiaannya kepada sang tuannya pun terbawa sampai mati.

Warga yang mendengar kematian Hachiko segera berduyun-duyun ke stasiun Shibuya. Mereka umumnya sudah tahu cerita tentang kesetiaan anjing itu. Mereka ingin menghormati untuk yang terakhir kalinya. Menghormati sebuah arti kesetiaan yang kadang justru langka terjadi pada manusia.

Mereka begitu terkesan dan terharu. Untuk mengenang kesetiaan anjing itu mereka kemudian membuat sebuah patung di dekat stasiun Shibuya. Sampai sekarang taman di sekitar patung itu sering dijadikan tempat untuk membuat janji bertemu. Karena masyarakat di sana berharap ada kesetiaan seperti yang sudah dicontohkan oleh Hachiku saat mereka harus menunggu maupun janji untuk datang. Akhirnya patung Hachiku pun dijadikan symbol kesetiaan. Kesetiaan yang tulus, yang terbawa sampai mati.

Film ttg kisah hachiko dibuat di jepang tahun 1987 dgn judul “Hachiko  no Monagatari”. Film ini banyak memperoleh penghargaan.

p.s : jelas anjing lebih banyak make hati daripada manusia.

18
Jun
09

’shiawase’ tte..?

backsound : Arkarna – Life is Free
mood           : dizzy

Tulisan – tulisan gw entah kenapa sering bernada sinis ya. hehehe.. sbenernya gw ga sesinis itu. tapi mood cynical emang yang dominan berperan kalo gw lagi nulis. lebih tepatnya, penyebab gw menuangkan sesuatu ke dalam tulisan adalah munculnya bagian diri gw yang sinis pada saat itu. dengan sinis, gw meracau. dan ini cuma salah satu dari sekian banyak racauan melankolis hasil merenung gw yang ga berujung pangkal.

jadi kalo ada orang yang baca tulisan ini, gw sarankan hanya fokus ke bagian yang di – highlight. that’s the point.

skarang gw lagi dlm proses memaafkan. ga tau karena gw-nya yang terlalu lebay, atau masukan dari temen², atau aslinya emang parah, makanya gw berada dlm keadaan ini.

ternyata tanpa disadarin, gw cukup ‘terluka’ dan ‘mengalami trauma’ (ini kata temen sih, gw ga menyadari dan ga mau memvonis diri kaya gitu).

yg lumayan bikin frustrasi, gw tidak punya apapun dan siapapun untuk disalahkan. terkadang punya pihak yang bisa dijadiin sasaran pelampiasan emosi cukup membantu. stidaknya kita punya tempat mencurahkan, daripada menjadi terlalu memahami segala sesuatunya dan ga bisa menyalahkan siapapun sampe akhirnya buntu, menyumbat semuanya untuk diri sendiri.

oke, ini cuma soal ego yang bicara.

emang idealnya kita ga boleh menyalahkan siapapun atas apapun yg terjadi dlm hidup kita. ini pelajaran bahwa ga semua hal bisa berjalan sesuai dengan keinginan kita.

terkadang kita harus memberi dan menerima emosi negatif. menjadi kehilangan sekaligus mendapatkan banyak hal. ada ruang kosong terbentuk, tapi ada juga potongan – potongan baru yang bikin kita tetep utuh yang menempel di tempat lain sementara ruang kosong yang terbentuk sbelomnya harus punya mekanisme untuk mengisi dirinya sendiri.

and actually it takes time to heal.

singkatnya, kaya puzzle yang ga pernah lengkap dan berubah jadi gambaran puzzle yang lain.

puzzle itu terus berubah spanjang hidup, ntah cepet ato lambat, sdikit ato banyak, ga akan pernah sama lagi.

skali lagi, idealnya dlm hidup ini kita harus belajar menerima atas semua hal yang terjadi dan mengambil hikmah dari situ tanpa harus menyalahkan siapapun termasuk diri sendiri.
tapi untuk kasus gw, ada bagian dalam diri gw yang ‘udah belajar’ dan ada yang ‘blom belajar’.

di satu sisi, gw cukup mampu untuk memahami semua yg terjadi dari berbagai sudut pandang tapi di sisi lain, itu membuat gw frustrasi dan gw tidak bisa menyalahkan siapa – siapa kecuali diri sendiri.

maka skarang gw sedang dlm proses memaafkan siapapun, termasuk diri sendiri. atas semua hal yang terjadi sejak gw bisa mengingat sesuatu sampe detik ini. sejujurnya gw juga bingung apa yg dimaksud memaafkan diri sendiri. lagi – lagi terbagi 2 sisi, di satu sisi gw merasa innocent. dan di sisi lain gw guilty, punya tanggung jawab atas smua yang terjadi. belom lagi ketakutan – ketakutan khas manusia (istilah yang dikasih sodara gw) yang muncul dlm diri gw…

takut disakiti
takut dibenci
takut difitnah
takut menyakiti

dan takut yang lain.

proses yg gw jalanin skarang ini naik turun & perlu terus dipertahanin. di satu waktu gw bisa menjadi sangat positif dan siap untuk menghadapi efek yang ditimbulkan masa lalu / masa sebelum skarang…

gw siap untuk menghadapi berbagai hal ga mengenakkan dan menganggapnya sbagai sarana untuk menjadi manusia yg lebih baik. kalo lagi dlm keadaan kaya gini, rasanya gw siap untuk menghadapi apapun dan bayangan akan diri gw yg ‘tegar’ di masa depan udah menanti.

rasanya cukup membahagiakan bisa ngebayangin diri sendiri bisa bermetamorfosa jadi pribadi yg ‘tertempa dgn cukup baik’. bahwa tempaan adalah tanda nyata kasih sayang Tuhan buat gw.

tapi lagi – lagi kadang gw terpleset dan bisa sangat takut untuk menghadapi semuanya. merasa ga berharga, mundur, kembali lagi ke keadaan sedih dan memilih untuk cari aman. hal – hal menyakitkan yang selama ini terjadi dalam hidup gw pandang sbagai cara Tuhan untuk menegur gw yang udah salah mengambil sikap.

Dia pengen gw berhenti & mengambil tindakan lain. Dia pengen bilang ada cara lain untuk bisa mendapatkan kebahagiaan untuk diri gw  sendiri. cuma perlu sedikit bersabar & menjalani serangkaian proses yang ‘berdarah – darah’. (oke, gw lebay dan ga tau harus pake kata lain apa :mrgreen: )

dan sekali lagi, keputusan menyakitkan ini juga membawa dampak menyakitkan dalam bentuk lain.

gw dlm keadaan positif maupun negatif, dua²nya punya efek samping tersendiri. yang jelas, setau gw, memaafkan adalah salah satu komponen penting kalo kita mau bahagia.

memaafkan diri sendiri yang udah menyakiti orang lain, melepaskan/merusak/menghilangkan sesuatu yang (mungkin) berharga, dan sebagainya… memaafkan orang lain yang udah menyakiti kita dan melepaskan/merusak/menghilangkan sesuatu yang berharga juga…

apa yang namanya kebahagiaan itu emang ga pernah utuh? haruskah kita merelakan sebagian hal hilang untuk mendapatkan sebagian hal lain yang bisa menyenangkan kita?

seorang manusia bisa aja mengorbankan sesuatu utk ngedapetin kebahagiaannya, tapi apa dia ga akan ngerasain sensasi kosong yang bisa muncul sewaktu – waktu karena keputusannya untuk merelakan sesuatu yang lain?

apa seorang manusia bisa dibilang bahagia ketika ia mendapatkan hal yang sanggup mengisi kekosongan yang dia bikin sendiri?

dan gw mulai migrain… makan eskrim dulu aaaaaaah :mrgreen:

28
Apr
09

filosofi kue stroberi

Backsound : Nicole feat. Will.i.am – baby love
Mood           : composed

yummy?

Yui Mikawa : “kalau kau sedang memakan kue stroberi, mana yang kau makan terlebih dahulu? stroberi atau kuenya?”
Manato Irie : “aku akan memakan kuenya terlebih dahulu dan menyisakan stroberinya untuk dimakan terakhir.”
Yui Mikawa : ” kalau aku akan memakan stroberinya terlebih dahulu, baru kuenya.”

Dialog yang diambil dari dorama “strawberry on the shortcake” (dan diubah-suai scara bebas urakan berdasarkan ingetan gw) ini entah kenapa muncul di pikiran gw. Padahal doramanya sendiri udah gw tonton bertaun – taun yang lalu.

Kenapa bisa keinget? Bukan karena waktu itu gw udah menyadari nilai moral dialog di atas, but simply because I was fond of takky.

Dari dulu, dan mungkin sampe sekarang, gw adalah tipe orang yang sama kaya takky. Save the best for last. Tanpa sadar, setiap kali berhadapan dengan makanan kesukaan, bagian yang terakhir gw makan adalah bagian yang paling gw suka. Misalnya aja setiap kali makan es krim conello rasa hazelnut mochacino, gw selalu nyisain butiran coklat – mocha yang ada di bagian atas untuk gw makan belakangan.

Kembali ke soal kue stroberi, alasan gw punya cara yang sama kaya takky dalam menyikapi si stroberi adalah karena gw selalu pengen ‘mendapatkan imbalan setelah melalui banyak hal’. Kuenya sendiri bisa aja punya kemungkinan bikin eneg karena kandungan krimnya, tapi ketika semuanya udah kemakan dan tinggal si stroberi yang nongkrong manis di piring, ada semacem penghiburan yang menanti gw dan itu terwujud dalam sesuatu yang enaaaaak banget.

Dengan pola pikir yang kaya gitu, gw pun ga habis pikir kenapa ada orang yang lebih suka ‘makan stroberinya duluan ketimbang menempa diri dengan makan kuenya terlebih dahulu’ (note : ini Cuma perumpamaan untuk menggambarkan cara orang mengambil tindakan dalam hidup sih). Kenapa mereka pengen ngerasain yang enak dulu baru berhadapan dengan hal – hal yang kurang mereka suka / biasa aja. Apa mereka ga takut kehilangan sensasi menyenangkan di akhir kegiatan makan mereka?

Akhirnya sekarang gw bisa ngerti. Ngerti gimana Yui Misawa bisa milih untuk makan stroberinya duluan. Kembali (lagi) ke soal kue stroberi, kita hidup di dunia ini ga sendirian, cin. Ketika lo makan kue stroberi itu, pasti akan ada kondisi dari luar diri kita yang bisa mengakibatkan kita ga akan pernah mengecap enaknya si stroberi padahal kita udah bela – belain nyisain dia untuk saat – saat terakhir.

Apa maksudnya?
Begini, waktu kita lagi makan kue stroberi itu, ada banyak bentuk gangguan yang bisa aja muncul. Misalnya aja dalam bentuk temen yang iseng, langsung nyamber si stroberi sementara kita lagi makan bagian kuenya. Atau bisa aja pas lagi makan kue, tiba – tiba ada telepon penting dan kita harus buru – buru pergi ninggalin si stroberi yang akhirnya kalo ga kebuang, ya lagi – lagi si stroberi bakalan masuk mulut orang lain. Contoh lainnya? bisa aja pas lagi makan kue stroberi itu, tiba – tiba ada kecoa jatoh di piring. Kita jelas ga mau jadiin kecoa sebagai substitusi si stroberi kan? :mrgreen:

Hal ini bikin gw inget sama kata – kata temen gw : ‘hidup ini kan cuma soal kesempatan dan pilihan.’
kita bebas memilih berbagai kesempatan yang ditawarkan kehidupan. Ketika kesempatan makan stroberi duluan sama besarnya dengan kesempatan membiarkan si stroberi untuk dimakan belakangan, dengan segala pertimbangan yang ada kita bisa milih salah satu dari kesempatan itu.
Ya, itu kemampuan dari dalam diri kita. Tipe orang ‘nyamber duluan’ atau yang ‘save the best for last’ punya nilai yang sama dalam keadaan ini. Tapi tipe orang ‘nyamber duluan’ jelas punya keunggulan ketika ada kondisi – kondisi eksternal yang muncul.

Ketika hal – hal yang tidak diinginkan terjadi, si orang yang ‘nyamber duluan’ beruntung karena dia sigap mengambil kesempatan yang ditawarkan kehidupan tanpa membuang waktu. Toh meskipun ketika hal – hal yang tidak diinginkan itu ga terjadi, si orang tipe ‘nyamber duluan’ udah punya kenangan tentang ‘hal menyenangkan’ yang udah dia rasain duluan.

Dan dia bisa memakan sisa kuenya dengan kenangan itu, sekalipun kuenya ternyata kurang sesuai dengan selera dia. Kenangan itu udah jadi imbalan sekaligus penghibur ketika dia menjalani hal – hal lain. Gw rasa orang tipe ‘nyamber duluan’ ini ga akan mengalami penyesalan ^^
Berdasarkan proses memahami ini lah kemudian gw memutuskan untuk mulai belajar jadi orang tipe ‘nyamber duluan’. Ga tau juga ini mengarah ke hal positif atau negatif, tapi toh ada yang jadi guide gw. Hehehe…




yang meracau di sini…


atashi no pasocon = lover XD currently busy using her computer. can't live without it. blame it on all my school subjects!

almanak

November 2009
M T W T F S S
« Oct    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

kumpulan ocehan terdahulu

apa isi kepala gw?