Emotional Distance

Hi, I’m back!

Niat one day one post di awal tahun menguap sebagaimana resolusi tahun baru pada umumnya. Panas di awal cepet dinginnya, atau bahkan gak pernah terwujud sama sekali. Mau tulis tangan di buku diary juga cuma bertahan dua tulisan, setelah itu bukunya kembali masuk ke laci gue.

Ternyata, supaya bisa kembali nulis di sini, gue harus ‘dipaksa’ oleh keadaan (baik di sekitar gue atau perubahan mood di dalam diri gue sendiri) yang agak down atau kontemplatif.

Nah, sekarang gue mau bahas tentang emotional distance. Jarak yang lebih nyakitin daripada LDR beda benua, karena bukan fisik yang berjarak, melainkan hati. Kenapa emotional distance bisa terjadi? Kalau dari pengalaman gue, semuanya karena dua hal: rasa trust dan ekspektasi yang gak terpenuhi.  Ketika berkaitan dengan orang yang kita sayang, tempat kita bergantung, tempat cari kenyamanan, selalu ada satu hal yang gak bisa diabaikan: harapan.

Kita berharap orang itu ada ketika kita butuh dukungan, kita berharap orang itu selalu bisa ngasih kenyamanan, kita berharap orang itu bisa ngasih apa yang kita perluin. Semakin kita deket sama orang itu, semakin kita lama-lama bareng dia, akan ada efek sampingnya: harapan kita makin banyak, makin besar.

Nah, kalau udah begini, kemungkinan jadi kecewa juga makin besar. Inget, kan, kata-kata bijak: expectation leads to disappointment? Inget juga, kan, lirik lagunya Lalu, apa yang harus dilakuin? Mengecilkan harapan, menghilangkan tuntutan, cuma fokus menyayangi aja.

Itu idealnya. Tapi praktiknya? Mungkin cuma orang suci yang sanggup kayak gitu, memberi tapi gak berharap apa-apa, sedikitpun. Apalagi yang namanya menghilangkan harapan dan tuntutan ada efek sampingnya juga: emotional distance.

Daripada kita kecewa atau sedih karena seseorang, lebih baik kita sekalian gak usah terlalu deket sama dia secara emosional, kan? Tapi rupanya emotional distance sendiri kayak pedang bermata dua: menghilangkan konflik tapi sekaligus menghilangkan intimacy. Dingin, gak bergairah, dan akhirnya bisa mati kalau kelamaan dilakuin.

Sungguh, emosi adalah sesuatu yang rumit. Takarannya gak boleh berlebihan, tapi gak boleh juga terlalu sedikit. Dan menentukan takarannya itu yang butuh belajar seumur hidup.

Udah, ah.

“Apa kabar?”

Sebenarnya apa tujuan kalimat yang satu ini? Untuk membuka perbincangan dengan orang yang baru dikenal? Sapaan saat bertemu teman lama?

Apakah pertanyaan ini bisa dijawab dengan kalimat apa pun, termasuk “Kabar gw nggak baik.”?

Menurut sebagian orang mungkin bisa, tapi nggak untuk sebagian orang lainnya. Daripada harus mikir dulu cara menguraikan kondisi hidup dia saat menerima pertanyaan itu, mendingan menjawab dengan kalimat template: ‘baik, kok!’

Dan topik pembicaraan pun akan bergeser ke arah lain. Mungkin itu lebih baik, lebih menenangkan, daripada harus mengungkapkan yang sebenarnya. Lagipula, bisa aja si penanya nggak bener-bener ingin tahu kabar kita, melainkan cuma pengin mencari topik selintas lalu.

Haruskah Caranya Cuma Begini, Begitu?

Di lingkaran pergaulan gw yang berumur segini, ada pola yang lagi rajin muncul, baik dalam bentuk candaan di dunia nyata atau update-an di media sosial berupa curcol berbaju ‘sharing kata bijak’.

“MENIKAHLAH.”

Ada yang rajin mengutip ayat atau kata bijak, yang intinya lagi nunggu jodoh banget, pengen segera dilamar. Mereka rajin ngingetin diri sendiri dan orang-orang sekitarnya untuk terus memperbaiki diri, berusaha cari jodoh sambil mendekatkan diri ke Tuhan. Ada juga yang rajin nyelipin nasehat di tengah becandaan, bilang kalau menikah adalah setengah dari agama, menikah adalah ibadah.

Setujukah gw? Oh tentu. Gw yang sekarang udah ga sinis dengan pernikahan. Gw menerima dan seneng kalau ada orang menikah dengan alasan yang baik. Gw juga pengen nikah kok. Menikah memang ibadah, karena dengan nikah kita bisa saling belajar mencintai, belajar menghilangkan ego, dan masih banyak lagi. Toh agama juga bilang kalo belajar itu ibadah, kan?

Agama menganjurkan dan sayangnya manusia suka banget mengubah anjuran itu jadi lebih mirip paksaan.

‘Buruan nikah biar sempurna ibadahnya…’

‘kok belom nikah sih? Hadist ini menerangkan bla bla bla…’

Hati-hati, paksaan halus kayak gini juga bikin orang terbebani, lho. Ngerasa ga cukup baik, ngerasa kurang menarik, pelan-pelan bakal jadi frustrasi.

Kata orang, rezeki, jodoh, maut, semua rahasia Tuhan. Nah, untuk bagian ‘jodoh’ ini rasanya perlu dipahami lebih lanjut. Kalau semua orang diciptain berpasang-pasangan, kenapa akhirnya ada orang-orang yang ga menikah seumur hidupnya? Kurang usaha? Belom tentu.

Gw pikir kalam-Nya memang ga bisa diartiin secara sederhana. Makna yang sesungguhnya jauh lebih dalem, lebih luas, lebih tidak menghakimi, lebih penuh kasih. Jodoh sendiri bisa aja nantinya hadir dalam bentuk beda-beda. Jodoh kamu adalah si A, jodoh kamu si B, jodoh kamu akan dateng di umur segini, jodoh kamu adalah…. tidak menikah.

HAH? APAH? LAKNATULLAH ENTE!

Hiks… semoga gw ga beneran digituin ya kalo beneran ngomong di depan orang-orang. Namanya toh juga pendapat. Kenapa gw bisa mikir begini? Karena gw udah punya contohnya nyatanya, om gw dan almarhumah tante gw sendiri. Mereka berdua tuna rungu, berjuang dengan kehidupan mereka masing-masing. Gw tau tante gw beberapa kali nyoba ngejalin hubungan, tapi toh ga ada yang lanjut. Kurang maksimal apa usahanya?

Agama sangat menganjurkan untuk menikah, dan agama juga bilang kalau belum sanggup menikah, maka berpuasalah. Alasan ga sanggup nikah bisa macem-macem, lhooo. Jangan cuma dikira ga mampu secara ekonomi aja. Gimana kalo alesan seseorang ga nikah karena memang akhirnya ga ada cocok? Ga ada yang mau berumah tangga sama dia atau sebaliknya? Gimana kalo dia memang ga suka lawan jenis? Nah, supaya kelakuan manusia yang belom sanggup nikah ga macem-macem, agama nyuruh puasa, deh. Puasa kan bisa ngebantu ngendaliin nafsu, tuh.

Paksaan semacem ini pastinya ikutan ngebentuk opini ‘kalo ga nikah, hidup lo ga lengkap. Lo ga sesuai dengan gambaran ideal masyarakat.’

Oke, asal muasal anjuran nikah jadi kenceng banget karena manusia harus ngelanjutin keturunan kan. Ini alasan primitifnya. Tapi di dunia jaman sekarang yang udah padet gini, yakin menikah jadi cara paling ideal untuk SETIAP orang?

Menikah emang ladang ibadah, tapi jangan jadikan itu alasan untuk push orang-orang yang punya kondisi tertentu. Jangan pernah memaksa orang. Tante gw, ga nikah, tapi dia bisa tetep berbagi cinta, tetep bisa ibadah. Gimana caranya? Belajar sampe lulus universitas bareng orang-orang non tuna rungu, jadi guru di SLB. Dia berbagi cinta dan pengetahuan sama murid-muridnya. Kurang mulia apa coba?

Jadi, tolonglah. Untuk yang pengen nyuruh orang nikah, lakukan dengan cara yang baik dan jangan terus-terusan maksa. Nyomblangin boleh, tapi ga usah berlebihan. Untuk yang belom nikah, yakinlah hidup kalian tetap baik-baik aja. Jangan keliatan putus asa, kebelet nikah, terus jadinya melempar diri ke siapa pun. Entah nantinya nikah atau ga, kalian tetep sempurna sebagai manusia.

yang tak disengaja

  1. Sedang melamun sambil tidur-tiduran, terus ketiduran.
  2. lagi jalan tiba-tiba selintas dengar lagu yang disuka tapi ga tau judulnya apa.
  3. Lagi browsing, tiba-tiba ketemu tulisan/video bagus yang pop-up di layar kita.
  4. Lagi mengedarkan pandangan mata ke sekeliling ruangan, tiba-tiba bertatap mata dengan orang lain, lalu saling tersenyum tulus.
  5. Lagi jalan sendirian tiba-tiba papasan sama kawan lama yang dirindukan, tanpa banyak cingcong janjian lebih dulu.

Semua itu nikmat. Saat yang tidak terlalu diinginkan menghampiri. Rasanya lebih bahagia, tanpa perasaan terikat dan takut kehilangan.

Mungkin ada baiknya kita tidak pernah terlalu menginginkan sesuatu. Toh, ada Kekuatan Besar yang tahu apa yang sebenarnya kita butuhkan, sadar atau tidak sadar.

Ah, tapi kata ‘manusia’ dan ‘keinginan’ sepertinya sudah terpaut sejak kehidupan dimulai.

Usaha Keras Tidak akan Mengkhianati

Makin lama gw makin sering membaca/mendengar kata-kata di atas. Semacam kalimat motivasi utk mendorong orang tetep bersungguh-sungguh dan ngga menyerah begitu aja.

Gw sendiri ga menentang kata-kata itu. Mengamini, bahkan. Tapi, kalau ga disikapi dengan hati-hati, keyakinan semacam ini takutnya jadi bumerang.

Begitu ‘terlampau’ yakin kalau usaha SUPER keras pasti diganjar sesuatu yang selama ini kita inginkan, hasilnya cuma dua:

kecewa atau sombong. Dengan kadar yang bervariasi, tergantung orangnya.

Kecewa luar biasa kalau ternyata kita tetep aja gagal, meskipun merasa udah mengorbankan semuanya. Waktu, pikiran, tenaga, atau uang.

“Percuma gw usaha keras, tetep ga bisa dapet apa yang gw inginkan.”

apa impact selanjutnya? bisa kapok total, depresi, gila, atau marah sama Tuhan. Dibutuhkan waktu lebih lama untuk sembuh dan kembali ke pola awal.

Sombong kalau ternyata berhasil mendapatkan yang kita inginkan. Well, gw yakin orang yang percaya Tuhan akan tetep bersyukur. Tapi apakah syukur itu akan ‘ditemani’ oleh perasaan “tuh, kan, ternyata gw emang bisa. Gw jago. Gw pantes ngedapetin ini.”? Atau murni rasa syukur?

Hati-hati, kita bahkan ga bisa mengenali 100% isi hati sendiri. Kesombongan bisa muncul dalam tingkatan paling saleh sekalipun.

Bukan hal yang salah untuk mengapresiasi diri sendiri, tapi perlu jeli buat mengenali apakah itu sebenarnya rasa sombong yang ‘dijinakkan’ sedemikian rupa sampe hampir ga kentara, atau bukan.

Jadi, mungkin sebaiknya usaha keras ini jadi bahan bakar dalam proses, bukan fokus ke hasil. Berusaha keras karena menikmati proses bersungguh-sungguh, bukan karena “gw usaha karena pengen dapet hasil A!”

Lho? Bukannya kita harus visualisasi sesuatu yang kita inginkan? Kalau ga fokus pada hasil yang kita inginkan, gimana bisa terwujud?

Then aim for something better, something that makes you feel very satisfied that you won’t mind if you don’t get the result A, B, C, or any other results. Just aim for ONE BIG result.

So, what is that one big result? How can we decide which result that we want to achieve?

Gw pernah berpikir dan menulis tentang hal yang mirip dengan ini sebelumnya. Bisa diibaratkan dengan anak kecil yang merengek minta permen, sesuatu yang enak tapi belum tentu baik, dan jelas bukan yang terbaik untuk si anak kecil.

So, I believe the answer is this.

Jadi, begitu berusaha keras tapi tetep ga mendapatkan apa yang diinginkan, rasa sakitnya ga akan terlampau besar dan lama. Dan akan lebih legowo untuk bertanya, “Oke, jadi sekarang aku harus ke mana?”

Dan kalau berhasil, akan lebih percaya bahwa keberhasilan bukan karena diri sendiri, tapi karena kasih sayang-Nya. Menyadari sesadar-sadarnya kalau peran diri sendiri nol besar, ga ada.

Perjalanan Darat Vietnam – Laos (Bagian 2)

Sebelumnya saya udah nyeritain tentang perjalanan darat selama 27 jam dari Hanoi, Vietnam ke Luang Prabang, Laos. Di postingan kali ini, saya mau nyeritain perjalanan darat Luang Prabang – Vientiane.

Awalnya, kami pengen mesen tiket sleeper bus, sama seperti waktu perjalanan dari Hanoi ke Luang Prabang. Tapi berhubung kami terlena damainya kota Luang Prabang, akhirnya telat pesan tiket sleeper bus ke Vientiane. Udah keburu sore. Kata resepsionis penginapan, tiket sleeper bus ke sana cuma tersisa dua kursi dan harus diisi penumpang laki-laki. Katanya demi alasan keamanan. Akhirnya, kita dikasih pilihan mau naik mini van atan VIP bus. Waktu kami tanya mana yang lebih nyaman, si resepsionis menjawab “tentu saja VIP bus!”. Okelah kalau begitu, kami sepakat beli tiket VIP bus dengan harga 185.000 kip per orang atau sekitar 294.000 rupiah. Sial, lagi-lagi lewat batas anggaran yang udah saya bikin. Rata-rata blog traveler bilang kalau harga tiket VIP bus ke vientiane cuma 150.000 kip.

Sekitar jam 6 sore, ada supir tuktuk yang menjemput kami untuk ke terminal bus Luang Prabang. Si supir sempat berhenti di perjalanan untuk menjemput penumpang yang menginap di tempat lain. Akhirnya kita satu tuktuk dengan seorang bapak-bapak dari Jepang.Sampai di terminal bus, kita langsung ngasih barang bawaan untuk ditaruh di bagasi bus. Dilihat sekilas dari luar, VIP bus ini keliatannya sih nyaman. Di tiket juga disebutkan kalau penumpang dapat air minum, snack, dan kupon makan malam. Meskipun kami sudah bawa bekal sandwich yang dibeli di pasar, rasanya senang begitu tahu ada kupon makan malam.

Begini nih kalau naik VIP bus, pikir saya.

Terminal bus Luang Prabang ga beda jauh dengan terminal Pasar Minggu, bedanya mereka menyampaikan pengumuman dalam Bahasa Inggris juga. Mungkin karena daerah wisata, ya. Begitu bus kami diumumkan akan berangkat, kami segera naik ke bus.

Hal pertama yang mencuri perhatian saya adalah aroma di dalam bus. Percampuran bau keringat, jamur, dan debu. Lumayan bikin mual juga. Jelas lebih mending bau pengharum ruangan murahan yang biasa ada di bus antarpropinsi di Jawa, deh. Belum lagi kain pelapis kursi yang sudah sangat kusam dan sampah yang berserakan di lorong bus. Lengan kursi juga berdebu dan sedikit berminyak (ew). Selain itu, AC di atas kursi kami juga tidak bisa dimatikan. Dengan sedikit paksaan, akhirnya arah angin dari AC bisa dijauhkan dari ubun-ubun saya.

Setelah sibuk nyetel penciuman biar lebih kebal, akhirnya kami duduk di kursi masing-masing sesuai nomor di tiket. Rupanya banyak turis asing yang juga naik bus ini. Sambil nunggu bus berangkat, saya iseng nyetel sandaran kursi. Wow, rupanya rusak. Sepanjang perjalanan saya harus bertahan dengan kursi bersudut 90 derajat ini. Ga cuma kursi saya yang rusak, beberapa kursi di belakang saya juga tidak bisa diutak-atik. Sudah bisa dibayangkan perjalanan kami? Baru beberapa menit bus berjalan, ada cewe Prancis yang sakit. Mungkin sakit perut atau mabok nyium bau bus. PAdahal sebelum berangkat dia kelihatan sehat-sehat aja. Tidak lama bus pun berangkat. Kondektur bus membagi-bagikan sebotol kecil air mineral dan snack semacam momogi. Tidak ada selimut atau handuk basah. Wow, servis yang memuaskan. *puter-puter bola mata*

Jalur Luang Prabang – Vientiane ini luar biasa, lho. Luar biasa ngerinya. Cuma ada satu jalur di antara pegunungan, jadi kendaraan yang datang dari arah berlawanan harus bergantian dengan bus kami untuk bisa lewat. Kecepatan bus juga tidak lebih dari 15 km/jam menurut perkiraan saya. Wajar, kalau lebih ngebut dari itu, bisa-bisa lebih cepat sampai ke kehidupan selanjutnya. Selain itu, sama sekali tidak ada pagar jalan, lampu penerangan, atau setidaknya pasak-pasak yang bisa mantulin cahaya lampu kendaraan itu, deh. Tahu kan maksud saya? Padahal di daerah terpencil di Indonesia aja  ada, lho pasak-pasak itu. Beruntung waktu itu sedang bulan purnama, setidaknya bisa kelihatan mana batas jalan dan mana jurang.

Saya kasihan liat pacar temen saya yang bule. Lagi-lagi, bus Asia macam begini ga sesuai dengan bentuk badannya yang tinggi. Lututnya harus keluar jalur supaya lebih nyaman. TIdur miring juga ga bisa. Terpaksa dia tidur dengan posisi 90 derajat. Sekali lagi saya merasa beruntung, meskipun kursi rusak, tapi saya masih bisa tidur menyandar ke teman saya, bahkan sampai mangap-mangap segala. Maaf ya, teman. Sempat sih beberapa kali kebangun karena ada penumpang lokal yang asik dengerin musik dari HP-nya dengan loud speaker. Satu bus bisa denger lagu dangdut koplo ala Laos yang dia puter.

Menjelang tengah malam, saya terbangun (lagi dan lagi), Rupanya bus berhenti. Ada suara perkakas berdenting-denting (halah). Wah, ternyata busnya bermasalah. Sampai satu setengah jam saya tunggu, bus belum juga jalan. Akhirnya, mesin dinyalakan. Baru aja bergerak, bus kembali berhenti dengan bunyi “bum” keras. Mesin pun kembali mati. Saya melongok ke luar jendela, ga ada bangunan apa pun kecuali WC umum reyot. Beberapa penumpang ikut terbangun dan khawatir. Iseng menengok ke belakang, rupanya penumpang warga lokal yang duduk di belakang kiri saya menaruh kakinya di tangan kursi saya. Kampret. Malem-malem dikasih kaki. Akhirnya Saya milih tidur lagi daripada stres. Untung kebo, beberapa menit kemudian saya sudah “menghilang”. Sayangnya, saya sempat kembali terbangun karena si bapak-bapak Jepang (yang satu tuktuk dengan kami ke terminal) ngigo dengan suara keras. Cewe Korea yang duduk di sebelahnya udah keliatan waswas.

Salah satu seni perjalanan darat adalah kemampuan menahan pipis. BIjaksanalah dalam meminum air. Tapi ya namanya manusia, dalam perjalanan 17 jam pasti butuh setidaknya 1 kali pipis dalam iklim sedingin itu. Akhirnya, jam 4 pagi kami berhenti di rumah makan. Ya, kupon makan malam kami bisa ditukarkan di sana. Mungkin lebih baik namanya diganti “kupon sahur”. Keputusan buat bawa bekal sandwich memang bener banget.

Begitu turun dari bus, hidung saya ga selera mencium bau pho yang bisa ditukarkan dengan kupon itu. Baunya aneh, ala ala makanan ga halal. Saya dan teman-teman cuma numpang pipis dan duduk di rumah makan itu. Belum lagi tempatnya yang kotor dan kumuh. Teman saya pun berinisiatif nukerin kupon makan dengan Lays. Iya, Lays. Snack kriuk-kriuk itu. Lumayanlah meskipun ga ngenyangin. Selesai (nungguin supir dan kondektur ngobrol sambil angkat kaki + korek2 gigi) makan, perjalanan pun dilanjutkan.Saya beberapa kali tidur – bangun karena guncangan bus yang lumayan keras. Tulang punggung juga sakit karena dipaksa lurus selama belasan jam.

Begitu matahari muncul, saya excited karena sudah 12 jam perjalanan. Pikir saya, sebentar lagi bakal sampe. Tapi setelah sejam, dua jam, lewatin sawah, ladang kosong, pemukiman terpencil, sawah, kuil, ladang kosong lagi, kok masih belum sampe, ya. Baru setelah 17 jam perjalanan kami sampai di Terminal VIentiane!

Perjalanan Darat Vietnam – Laos (Bagian 1)

Perjalanan Vietnam – Laos adalah perjalanan ketiga saya mengunjungi negara-negara di ASEAN. Setelah Malaysia – Singapura dan Thailand – Kamboja, Vietnam – Laos adalah negara yang bisa dilintasi dengan perjalanan darat.

Pada postingan kali ini, saya fokus membahas tentang perjalanan darat Vietnam – Laos menggunakan sleeper bus. Rute yang saya pilih adalah Hanoi – Luang Prabang dan Luang Prabang – Vientiane.

Setelah tiga hari dua malam di Hanoi, tibalah saatnya kami harus berangkat ke Luang Prabang, Laos. Sebelum berangkat saya sempat deg-degan memilih pergi naik sleeper bus. Banyak blog orang luar yang bilang kalau perjalanan darat Vietnam – Laos itu mirip neraka. Mereka bilang pengalaman ini cukup dirasain sekali dalam seumur hidup.  Perjalanan darat Hanoi – Luang Prabang butuh waktu setidaknya 24 jam. Itu belum termasuk jalanan berkelak-kelok ala pegunungan yang katanya bikin mabuk darat. Pengurus penginapan saya di Hanoi juga heran. “Kenapa ga naik pesawat? Naik bus capek, lho. Hati-hati dengan barang bawaan kalian. Banyak orang berniat jahat di terminal dan bis.” Nah lho.

Akhirnya saya coba cek harga tiket Vietnam Airlines. Harganya? 224 USD saja. Bah. Duit sih ada… banyak pula (sombong). Tapi kok rasanya sayang ya. Sementara itu, menurut hasil googling, harga tiket sleeper bus Hanoi – Luang Prabang sekitar 50 USD. Jauh kan? Lagipula, dengan naik sleeper bus semalaman berarti saya menghemat biaya penginapan satu malam. Uangnya bisa dipakai buat beli oleh-oleh, deh.

Akhirnya saya booking tiket sleeper bus Hanoi – Luang Prabang di hotel tempat saya menginap. Ternyata harganya 52 USD. Ini pentingnya ngelebay-lebayin anggaran di rencana perjalanan. Biar ga kaget sama biaya tambahan ga terduga.

Sore terakhir di Hanoi saya dan teman menunggu dijemput di penginapan. Jam 6 sore, muncul bapak-bapak naik motor. Saya langsung sigap gendong carrier, melangkah ke arah si bapak-bapak. Dia langsung bilang “follow me!” sambil nge-gas motornya.

Rupanya saya kelewat percaya diri. Bukan dijemput terus dibonceng, tapi disuruh lari ngejar dia dari belakang! Untungnya saya ga harus lari-lari terlalu jauh. Si bapak-bapak nyuruh saya nunggu di tepi jalan besar. Ga lama kemudian, muncul mini van yang membawa kami ke terminal bus Hanoi. Sampai di sana, bapak-bapak yang naik motor tadi bilang “papo! Papo!” ke arah kami.

Papo? Pispot? Or are you talking in Minions’ language? Papoy?

Oh, ternyata maksudnya paspor.

Si bapak perlu paspor kami untuk beli tiket sleeper bus. Setelah dapat tiket, kami diantar ke bus bertuliskan: HANOI – LUANG PRABANG. Kondektur bus meminta kami menaruh carrier di bagasi. Tips untuk bepergian dengan sleeper bus, pisahkan barang-barang penting seperti HP,kamera, uang, paspor di tas kecil untuk dibawa ke dalam bus. Taruh tas itu di tempat yang paling aman, kalau perlu diiketin ke badan atau ditindih.

Begitu masuk ke dalam bus, mata saya disambut oleh lampu warna-warni ngejreng yang bikin sakit mata. Untungnya, sleeper bus ini dilengkapi wi fi dan selimut. Jadi bisa tetep terhubung internet dan merasa hangat. Saya pilih kursi di bawah karena akses keluar masuknya tidak semudah kursi di atas. Sengaja supaya barang-barang berharga saya aman dari jangkauan orang lain. Dengan ukuran badan perempuan asia, saya juga lebih mudah masuk ke tempat duduk bawah dibandingkan turis Eropa dan Amerika.Meskipun tidak ada nomor kursi, tapi kami semua dipaksa duduk di kursi-kursi belakang. Si kondektur mau kursi-kursi depan tetap kosong. Cara ngomongnya itu lho, bentak-bentak dalam bahasa lokal.

Sekarang, masalah selanjutnya adalah cara mengetahui password wi fi. Penumpang sleeper bus hampir semuanya adalah turis asing. Si kondektur bus sama sekali tidak bisa Bahasa Inggris. Setiap kali kami menanyakan password, dia cuma bergumam dalam bahasa Vietnam. Beruntung ada satu penumpang cewek Vietnam yang bisa menerjemahkan. Kalau ga ada dia, rasanya pengen minta kembalian 20 dari 52 USD yang sudah saya keluarkan. Jam 8 malam, telat 1 jam dari yang diperkirakan, akhirnya sleeper bus kami berangkat juga.

Hampir setiap jam bus berhenti. Kondektur memasukkan kardus-kardus. Sepertinya banyak orang lokal yang menggunakan bus ini untuk mengirim barang. Mulai dari kardus-kardus snack kering sampai kardus entah isinya apa. Dalam hati, saya berdoa semoga itu bukan narkoba. Beberapa jam kemudian waktunya makan malam. Dengan bahasa tubuh seakan-akan ngajak berantem, si kondektur teriak “eat! eat!” dan menyuruh kami turun. Bentuk restoran yang kami datangi mirip rumah-rumah makan di jalur pantura. Menunya standar, spring roll dan pho. Berhubung ga yakin sama kehalalannya, akhirnya kami makan sandwich dari Hanoi aja.

Kami kembali melanjutkan perjalanan. Rupanya ada satu tentara Vietnam yang naik di tengah jalan. Dia cuma bayar 50.000 VND atau setara 30.000 rupiah! Asem, beda harganya jauh banget. Karena ga ada kursi lagi, dia tiduran di lorong persis di sebelah saya. Pertama-tama sih anteng, tapi begitu tengah malam, tidurnya rusuh. Lututnya meniban kaki saya. Suara dengkurannya juga dahsyat. Capek bang abis latihan perang?

Berkali-kali saya tendang lututnya supaya pindah dari kaki saya, berkali-kali juga lututnya balik lagi. Rasanya pengen saya tiban kardus dia. Akhirnya saya balik tidur supaya ga senewen. Sleeper bus masih terus berhenti beberapa kali untuk mengangkut orang-orang lokal yang mau pergi ke Laos. Makin banyak orang lokal, makin berisiklah mereka. Kondektur, supir bus, dan penumpang lokal mengobrol dengan suara keras. Mungkin biar ga ngantuk juga, ya.

Jam 7 pagi kami tiba di perbatasan Vietnam – Laos. Awalnya saya tidak sadar itu sudah di perbatasan. Dengan bahasa tubuh, kondektur menyuruh kami turun dan pergi ke arah yang dia tunjuk. Saya bingung harus jalan ke mana. Kabutnya tebal banget! Bahkan saya ga bisa lihat jalanan dua meter di depan. Suasananya mirip-mirip di film Silent Hill. Akhirnya kami ngekor penumpang lain yang sudah jalan lebih dulu. Setelah beberapa menit jalan, tampak bangunan besar yang ternyata kantor imigrasi Vietnam. Sampai di sana, kami masih harus menunggu karena kantornya belum buka. Beberapa petugas imigrasi sudah datang, tapi mereka masih sibuk mengobrol. Jam 8 lewat paspor kami baru dicap.

Setelah itu, lagi-lagi kami harus meraba-raba sendiri harus ke mana. Tidak ada petunjuk alur imigrasi yang jelas. Akhirnya kami memutuskan langsung berjalan menuju jembatan perbatasan Vietnam – Laos (Nam Can Bridge). Yaaa kalaupun disuruh balik lagi karena ada dokumen belum lengkap, pasrah aja.

Di kejauhan kami melihat bangunan kecil. Tidak ada papan petunjuk. Sampai di sana, kami baru sadar itu kantor imigrasi Laos. Sudah banyak orang lokal dan turis asing di sana. Kata dalam Bahasa Inggris di kantor imigrasi itu cuma dua: “immigration” dan “Custom fee”. Para petugas di loket imigrasi juga tidak bisa berbahasa Inggris. Cewe Vietnam yang bareng kami bilang kalau kami semua harus membayar custom fee sebesar 10.000 kip. Wah, kok saya ga pernah nemu blog traveler lain nyebut biaya ini ya selama googling? Berhubung saya belum punya lao kip, saya bertanya ke si petugas apakah saya bisa membayar dengan dong vietnam. Si petugas cuma plenga-plengo. Si cewe Vietnam entah di mana. Padahal saya butuh dia untuk menanyakan apakah turis ASEAN harus bayar dan apakah bisa membayar dengan vietnam dong.

Akhirnya saya kembali ke loket imigrasi. Saya taruh aja paspor di loket (setelah disela beberapa kali oleh orang lokal yang ga ngerti antre). Sempat deg-degan karena dua petugas imigrasi lumayan lama ngeliatin paspor saya dan membicarakan sesuatu. Sepertinya mereka memastikan apakah turis Indonesia bayar visa atau tidak. Kalau bayar, bisa gawat urusan anggaran perjalanan.  Atau jangan-jangan saya harus balik mengantre custom fee dulu. Wah, bakal lama lagi. Sementara kami harus segera kembali ke sleeper bus. Si petugas lalu memberikan form arrival dan departure. Saya langsung mengisi dan menyerahkan form arrival ke si petugas. Tidak lama kemudian, dia kembali menyerahkan paspor saya yang sudah dicap. Tidak ada sepatah kata pun. Lho? Berarti saya tidak perlu bayar custom fee? Padahal si cewe Vietnam sekali pun bayar dan turis lain juga ikut bayar. Dengan perasaan bingung campur senang, kami kembali ke sleeper bus, melanjutkan perjalanan.

Menjelang siang hari, kami berhenti untuk makan di daerah Phonsavan, Laos. Ada perbedaan rumah makan ala pantura di Vietnam dan Laos. Di rumah makan Laos, saya menemukan banyak toples berisi arak hasil fermentasi. Campuran isi toples itu beragam, mulai dari buah-buahan sampai sarang lebah. Belakangan saya juga menemukan yang berisi kalajengking dan ular utuh. Wow. Kami makan di restoran kecil unik. Mereka menjadikan bom dan alat perang lainnya sebagai dekorasi restoran. Pelayannnya sopan-sopan, kelakuannya mirip akang-akang soleh dari pesantren.

Selesai makan, sleeper bus kami berhenti beberapa kali di WC umum yang keadaannya lebih menyedihkan daripada di Indonesia. Jam setengah 12 malam, akhirnya sleeper bus kami sampai di terminal bis Luang Prabang. Tidak ada siapa-siapa di sana, cuma para penumpang sleeper bus kami dan tiga supir tuktuk. Saya menunjukkan alamat penginapan dalam aksara Laos ke salah satu supir tuktuk. Dia menawarkan harga 20.000 kip per orang untuk ke sana. Syukurlah, menurut hasil googling, biaya tuktuk di sana memang berkisar antara 20.000 – 50. 000 kip per orang. Akhirnya, kami diantar ke penginapan. Sempat takut juga bakal dibawa entah ke mana karena waktu itu kami perempuan hanya berdua dan sudah tengah malam. Beruntung kami dapat supir tuktuk yang baik.

Ternyata perjalanan darat Vietnam – Laos selama 27 jam ga sehoror yang dibilang orang-orang. Jalanannya emang berliku-liku, tapi alhamdulillah ga mabuk darat. Mungkin tergantung orangnya juga, sih. Temen saya ga bisa tidur sementara saya kebo banget. Maybe this is the perks of being a third-world country citizen. Terbiasa sama kerasnya transportasi umum. Tapi rupanya perjalanan darat menyeberangi Vietnam – Laos selama 27 jam masih lebih baik daripada perjalanan darat Luang Prabang – Vientiane yang “cuma” 17 jam. Kenapa? Bisa dibaca di perjalanan darat Vietnam – Laos Bagian 2 ya.