listening is healing.

backsound : sigur ros – Njosnavelin
mood            : thoughtful

Setelah kemaren meracau kaya orang yang lagi di bawah ketergantungan obat dan terdengar sangat positif sekali, sekarang grafik gw agak menurun.

sedikit negatif, tapi hanya di awang – awang, tidak berkubang.

(Mr Last Resort loves this words. apparently, my melancholic side has positive impact. penggunaan kata – kata jadi lebih kreatif dan makin mirip pujangga 😆 )


sekarang hampir pukul dua pagi… masih aja nyalang. bukan tanpa alasan juga, karena setelah berhasil sedikit mengorek diri seorang kawan, sekarang dia lagi menuturkan kisah²nya yang ternyata udah lama ditumpuk, menyebabkan munculnya stress terselubung. cirinya mudah dikenali, dia tertawa saat bersama orang² tapi ternyata barusan dia ngaku kemaren malem baru nangis sendirian di kamar dan ngerasa ga punya siapa².


sebenernya penurunan ‘grafik’  gw juga mengakibatkan gw butuh orang laen untuk jadi tempat cerita. Tapi ternyata prakteknya gw bisa tersembuhkan ketika mendengarkan orang lain. jadi skarang saya bahik – bahik sajaaaaa ^^ cuma perlu lebih yakin meskipun bakal susah banget yakin :mrgreen:


kembali ke persoalan temen gw yang curhat ini, dia ngerasa menyedihkan aja karena belakangan ini ga bisa mengelola perasaan sendiri. bawaannya mellow, ga tau gimana caranya bikin diri sendiri lebih positif. akibatnya, dari tadi dia bolak – balik bilang : ‘ganti topik! cari obrolan laen’. atau ‘gw harus berusaha mikir positif donk ya’.


ga salah sih berusaha kaya gitu, niat lo untuk bisa jadi lebih positif aja udah bagus banget. ga sampe kaya orang depresi berat yang bahkan ga pengen lagi nyari kebahagiaan hidup.

hanya saja, gw pribadi bukan orang yang selalu berusaha untuk mempositifkan diri ketika gw lagi ga mampu. bukannya ga mau, tapi ga punya energi lebih untuk ‘switch’ pikiran ke tombol lambang ‘(+)’. :mrgreen:

gw terbiasa untuk berdamai dulu dengan fase down dan kemudian baru cari solusi buat ngatasin itu. kalo ngutip kata² tamu di acara Oprah, ‘menjadi lebih manusia ketika merasakan kesedihan’. dan itu ga terjadi sekali, tapi berkali – kali.

temen gw ini minta saran untuk salah satu dari sekian banyak masalahnya, dia tanya : ‘gimana caranya ngelupain orang yang lo suka?’

kenapa harus dilupain? melupakan cuma mekanisme sementara yang bakal membuat lo lebih meledak lagi kalo suatu saat nanti kena pemicunya. ini ga cuma soal orang yang kita suka aja, tapi untuk masalah apapun. melupakan bukan cara yang baik.

kalo emang masih suka sama seseorang, nikmati aja rasa suka lo itu. kalo beruntung, rasa suka itu bakalan jadi sesuatu yang positif. lebih nrimo, ga menggebu-gebu, dan platonis mungkin :mrgreen:

sampe nanti akhirnya lo akan mencapai tahap baru yang bakalan membuat lo lebih positif dan bener² sadar tentang apa yang dimaksud ‘menyayangi seseorang’ itu.

mungkin lo emang sayang dia, atau mungkin itu cuma obsesi.manusia jelas butuh waktu untuk mengenali dirinya sendiri, termasuk pikiran & perasaannya.

intinya, kita akan belajar lebih banyak ktika berdamai dengan masalah, stress, depresi, kesedihan, dll daripada berusaha ngelupain dan cari pengalihan dalam bentuk lainnya. kita akan menjadi lebih sadar untuk ‘sembuh’ dari luka yang ditimbulin masalah daripada cuma nutup luka itu doank tanpa ada usaha pengobatan.


dan seneng juga rasanya karena gw nemuin artikel yang mirip dengan pendapat gw. ditulis reza gunawan.

—–

p.s : happy birthday to you ^__^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s