Tuhan Maklumilah aku

backsound : drive – ode
mood           : hmph

Tuhan, bisakah aku menerima hukum – hukum Mu tanpa meragukannya lebih dahulu? Karena itu Tuhan, maklumilah lebih dulu bila aku masih ragu akan kebenaran hukum-hukum-Mu. Kalau Engkau tak suka hal ini, berilah aku pengertian – pengertian sehingga keraguan itu hilang dan cepat – cepatlah aku dibawa dari tahap keragu-raguan kepada tahap penerimaan.


Tuhan, murkakah Engkau bila aku berbicara denganMu dengan hati dan otak yang bebas, hati dan otak yang Engkau sendiri telah berikan padaku dengan kemampuan – kemampuan bebasnya sekali? Tuhan, murkakah Kau bila otak dengan kemampuan – kemampuan mengenalnya yang engkau berikan itu menggunakan sepenuh – penuhnya kemampuan itu?


Tuhan, aku ingin berbicara dengan Engkau dalam suasana bebas. Aku percaya bahwa Engkau tidak hanya benci pada ucapan – ucapan yang munafik, tapi juga benci pada pikiran – pikiran yang munafik, yaitu pikiran – pikiran yang tidak berani memikirkan yang timbul dalam pikirannya, atau pikiran – pikiran yang pura – pura tidak tahu akan pikirannya sendiri.

9 Juni 1967

(dikutip dari buku ‘Pergolakan Pemikiran Islam : Catatan Harian Ahmad Wahib’, hlm. 30 -31)

gw pikir nih buku isinya bakal tentang Islam dan politik yang dikupas scara kritis… ternyata isinya catetan harian… dan ga cuma tentang Islam aja. bahkan Ahmad Wahib ngomongin masa kecil dia yang sempet ngerasain lingkungan pesantren, diasuh sama keluarga Katolik, dan punya temen² baik dari PKI. dia juga ngomong tentang seni, pertunjukan teater, dan nyeritain perasaan dia tentang orang yang dia suka… sayang dia meninggal muda. tulisannya bagus² deh 🙂

—–

p.s 1 : aku berpikir bebas terhadap Tuhan. maka aku ingin Dia tau bahwa aku tidak mau kehilangan apa yang sedang datang kepadaku sekarang. aku tak bersalah dan berhak bahagia. yang membuatku menahan diri adalah moral. moral yang terdistorsi kesalahpahaman

p.s 2 : buku ini punya eyang gw. hadiah dari nyokap taun 1982 buat jadi bahan bacaan di kreta slama perjalanan dari Jakarta ke Surabaya. aih… nostalgia.. :mrgreen:

Advertisements

4 thoughts on “Tuhan Maklumilah aku

  1. Tuhan, murkakah Engkau bila aku berbicara denganMu dengan hati dan otak yang bebas, hati dan otak yang Engkau sendiri telah berikan padaku dengan kemampuan – kemampuan bebasnya sekali? Tuhan, murkakah Kau bila otak dengan kemampuan – kemampuan mengenalnya yang engkau berikan itu menggunakan sepenuh – penuhnya kemampuan itu?

    saya rasa nggak. asal jangan sampe mikir wujud tuhan itu kek apa?! 😀

    • oh itu mah kagak berani sayah. hihihihi.. cuma ya kan gitu, kadang kita takut kelewat batas dalam hal berpikir karena takut murka Tuhan.. 😆

      dan bukunya skarang hilaaaang! kmana raibnya itu benda ya.. huhuhu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s