ijinkan saya marah, bukan berarti saya membenci.

backsound : mew – sometimes life isn’t easy

Ini lagu udah berapa kali yak gw jadiin backsound kalo lagi nulis blog? Ciamik sekali. Tak jemu-jemunya ku mendengarkan tembang indah ini.

Jadi begini, ada satu hal yang sebenarnya udah membayangi pikiran gw sejak lama tapi kadang ilang, kadang timbul. Dicetuskan oleh sesi curhat panjang seseorang yang merasa hancur lebur sampai akhirnya dia membawa – bawa Tuhan : ‘biarlah Allah yang membalas.’

Gw berempati sekali, sampe kadang, – kalau kata temen gw – berlebihan. Dia curhat, gw juga ikutan menderita. Blah.

Gw pun mulai nyari tau tentang orang ini lebih dalem, secara langsung maupun ga langsung. Mungkin gw emang kepo sekali ya, tapi itu sifat yang ga bisa ditekan. Entah kenapa gw iseng skali menghimpun data tentang trivial things orang – orang. Ga peduli orang itu deket atau ga sama gw.

Gw ngambil kesimpulan secara kasar, kalau dia adalah orang introvert yang perfeksionis.

Kenapa bisa gitu? Gw rasa itu karena dia lahir dari keluarga sangat mampu, dengan ayah yang keras (dalam hal prinsip, ga sampe melakukan kekerasan fisik) dan ibu yang lemah lembut, cenderung tunduk sama suami. Keluarga besarnya juga bisa dikategorikan ke dalam kalangan menengah ke atas yang menjunjung tinggi budaya Jawa dan pencapaian akademis yang tinggi.

Gw  campuran Jawa – Padang, sedikit tau bagaimana budaya Jawa membentuk pola pikir seseorang.

Singkatnya, selama dia cerita, gw merasa dia seakan-akan dihantam musibah yang luar biasa… kasian, menyedihkan, mencekam, dll. Sampe sekarang pun sebenernya gw masih empati, tapi bentuk empati gw yang sekarang lebih kepada :

‘oke, lo kasian harus ngalamin ini. Karena lo orang yang menjunjung tinggi kejujuran, moral. Lo merasa prinsip lo dilanggar orang lain dan itu emang bikin sakit hati. Tapi gw juga kasian sama lo karena ga mau melihat dari sisi lain, makanya lo merasa makin menderita dan gampang kemakan omongan orang. Lo hanya mendengarkan mereka yang bisa mengafirmasi pikiran lo, hanya mendengarkan mereka yang mungkin belom tentu bisa memandang permasalahan secara menyeluruh.’

Gw mulai marah ketika dia ga bisa berhenti untuk mengasihani diri sendiri. Makin lama dia makin menguras emosi gw dengan energi negatifnya. Gw udah berulang kali ngasih masukan tapi rupanya dia memilih untuk tetep melihat persoalan dengan satu sudut pandang. Dan sayang sekali gw paham dia begitu. Akhirnya gw kan jadi cuma bisa maklum… ga bisa marah *sewot sendiri*

Ketika lo udah memahami seseorang, sekalipun ga setuju dengan pola pikir orang itu, lo akan susah untuk marah. Mentok2nya lo jadi maklum dan ga bakal mengkonfrontasinya dengan pola pikir yang lo punya. Itu pelajaran yang gw dapetin.

Gw makin capek dengan sikap dia yang seolah – olah menempatkan dirinya sebagai orang paling menderita. Oke,  threshold tiap orang emang beda – beda, tapi ini berlebihan. Sangat.

Ga masalah dia merasa sangat menderita karena masalah itu, tapi ketika udah dikaitkan dengan keadaan keluarga atau orang sekitar yang sepertinya ga kondusif untuk masa menderita dia, dan malah memperburuk keadaan, gw marah.

Dia dari keluarga mampu yang bisa ngasih dia fasilitas lengkap. Dia dari keluarga dengan orang tua yang masih lengkap dan tidak ada konflik rumah tangga, misalnya perselingkuhan atau perceraian. Keluarga besar dia deket satu sama lain. Hasil stalking gw (bangga gitu?) menunjukkan kalau hubungan dia sama keluarga besar itu baik, akrab… dia punya sosok ibu yang baik, lembut, bisa dijadiin tempat cerita.

Gw kenal orang – orang dari keluarga ga lengkap, keluarga inti yang berantakan, keluarga besar yang cenderung ga peduli dan ga solid. Yang mendekat kalo ada perlunya aja ( 😆 ). Gw kenal orang – orang dari keluarga kurang mampu. Gw kenal orang – orang yang harus mengalami kekerasan di masa kecil, kenal orang – orang yang melihat sendiri perselingkuhan dalam keluarganya tapi dia milih untuk ga ngasih tau siapapun supaya semuanya tetep baik – baik ( :mrgreen: ). Gw juga kenal dengan orang – orang yang terbiasa diperlakukan beda sampe akhirnya dia benci dengan dirinya sendiri.

Gw sendiripun sebenarnya juga bisa nyari alasan – alasan untuk menangkis orang ini, bawa – bawa keluarga, pengalaman hidup, dsb. Mengasihani diri sendiri bareng – bareng. Tapi dia pun ga akan sungguh-sungguh mendengarkan karena semua berpusat di penderitaannya sendiri, dan gw bakal membuat diri gw keliatan menyedihkan.

Gw kenal orang – orang yang jauh lebih bermasalah. Mereka juga nangis, frustrasi, marah, ga terima… tapi mereka tetep menjalani hidup, tetep ketawa ketika waktunya ketawa. Dan satu hal yang sangat positif, mereka menghargai ketidaksempurnaan dan bisa punya pandangan hidup yang lebih bijak. Atau katakanlah kalau belom bijak, mereka bisa sangat menghargai orang lain, ga judgmental. Lebih mudah menerima pemikiran – pemikiran yang berbeda, dll.

Tapi orang ini?

Mungkin dia harus berhadapan dengan kerasnya tuntutan orang tua… tapi tolong, bukan cuma dia yang harus mengalami keadaan kaya gitu. Ada jutaan orang lain di dunia yang sama kaya dia, atau malah jauh lebih parah.

Tolong berenti mengasihani diri sendiri, berhenti memandang diri sendiri sebagai korban. Kehidupan lo baik – baik aja. Berhenti bersikap mirip remaja tanggung yang langsung kabur dari rumah kalau dimarahin orangtua cuma karena masalah sepele.

Masalah ini jadi bingkisan kecil ‘ketidaksempurnaan’ dari Tuhan untuk sedikit menurunkan tingkat perfeksionis lo, menghilangkan sifat keras kepala, dan menaikkan tingkat kebijaksanaan lo. Waktunya lo berhenti menyalahkan orang lain, berhenti memandang diri lo bersih dari kesalahan, berhenti untuk dendam.

Tolong berhenti untuk memfokuskan diri pada hal – hal yang cuma membenarkan pola pikir lo. Tolong pandang masalah dari sisi lain, dan lo ga akan merasa hancur. Lepasin semua atribut yang menempel & membatasi diri lo, dan keluar ke sisi dunia yang lain. Lo ga akan dipenuhi dendam.

Gw ga benci lo, tapi memang butuh waktu untuk menyembuhkan diri dari semua pernyataan – pernyataan menyudutkan.

Kasarnya, gw pengen bilang : ‘jangan manja ya.’

Udah terbiasa hidup sesuai keinginan mungkin ya… segalanya ada. Begitu ada goncangan dikit, kelelep kan lo.

Lo orang baik, sangat memikirkan perasaan orang. Tapi yang gw rasain, lo berbuat baik sekedar supaya orang lain ga benci lo, supaya lo ga kesepian dan diterima semua orang. Ga tau ya… feeling gw untuk hal ini cukup kuat. Tapi ini wajar… mengingat lo dari keluarga yang sangat mementingkan etika dan moral, yang suka berbenturan dengan lingkungan pergaulan lo yang mungkin ‘tidak sehalus itu’.

Jadi lo harus menahan diri dan tetep berbuat baik supaya lingkungan pergaulan lo ga terintimidasi dengan standar lo yang sebenarnya tinggi. Ini wajar untuk orang dengan latar belakang kaya lo. Wajar banget. Gw kenal orang kaya lo bukan cuma 1 – 2orang.

Gw kenal orang – orang yang sikapnya jauh lebih preman dan omongannya lebih kasar, tapi mereka tulus. Ketulusan ini yang ga bisa diukur secara empiris… selama gw bergaul dengan mereka, gw merasakan ketulusan mereka dalam berbuat baik. Bukan untuk diterima atau ga dibenci, tapi memang karena mereka peduli dan pengen menyenangkan orang yang penting untuk mereka.

Actually, I want to know you deeper and better. Dan sbenernya gw pun kadang iri dengan kehidupan lo, keluarga lo. Tapi ya gw juga bangga kok dengan hidup gw sendiri. Purrefekutooo. (namanya juga manusia… maafken saya yah. :mrgreen: )

p.s 1 : gw juga harus belajar membedakan, kapan seseorang bercerita dengan tujuan butuh tempat sekedar mencurahkan beban pikiran, butuh masukan, butuh dikasihani, atau emang cuma pengen ‘meneror’ secara tidak langsung orang yang mendengarkan.

p.s 2 : kenyamanan itu emang penting banget, tapi ketika itu hanya sekedar nyaman dan ga membawa ke arah yang lebih baik, itu jadi kenyamanan yang membahayakan. Semua orang butuh comfort zone, tapi kadang dengan keluar dari zona itu, seseorang mendapatkan banyak hal yang mungkin menghancurkan dia tapi juga sekaligus membawa dia ke arah yang lebih baik. Semoga. Gw juga ga tau kan.

Advertisements

2 thoughts on “ijinkan saya marah, bukan berarti saya membenci.

  1. ini orang yang itu bukan ya? :mrgreen:
    masihkah dia seperti ini?
    kalo bener ini orang itu dan masih seperti ini, saya turut kasihan..
    coba ajak2 dia ke panti orang2 difable aja, kali aja bisa refleksi, kali :mrgreen:

    • nope..udah ga. gw – nya aja yang baru skarang ini bisa menjabarkan apa yang gw pikirin dari dulu :mrgreen:

      ya maklum sih, sakit..
      yang gw ga suka, jangan bawa2 keluarga..masalah laen..

      banyak orang laen yg sharusnya bisa jadi lebih fragile dari dia 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s