risoles, mie goreng, dan (rencananya) kopi kalengan.

backsound : sandhy sondoro – end of the rainbow

“Man is condemned to be free.”

Mbah Sartre ngomong gitu.

Menurut Kitab Suci sekalipun, manusia adalah makhluk ciptaan-Nya yang diberikan kebebasan untuk melakukan sesuatu, mendapatkan sesuatu, melepaskan sesuatu, menentukan pilihan. bebas adalah anugrah.

tapi di satu sisi, ini jadi kutukan. saking bebasnya, manusia boleh memilih untuk membahagiakan atau menjerumuskan dirinya sendiri dalam ketidakbahagiaan. tetap dalam kedamaian atau harus terus – terusan menghadapi bahaya. apapun langkah yang dipilih, manusia tidak harus mengalami keterbatasan. bahkan bunuh diri pun suatu bentuk pilihan bebas manusia untuk tidak hidup lagi di dunia ini.


coba liat anjing, burung, kucing, kijang, atau apa lah.

mereka makhluk² yang dikasih keterbatasan. otak mereka  ga bisa dipake untuk berpikir, cuma insting. tapi insting yang ‘mengekang’ itu lah yang menyelamatkan mereka secara maksimal dari sesuatu yang bisa membahayakan mereka.

kita ambil contoh, anjing.

begitu dia ngelakuin sesuatu yang menganggu manusia, otomatis dia akan mendapatkan ‘hukuman’. bisa ditendang, disambit, dipukul, dsb.

sekalipun pada awalnya dia melawan, tapi pada akhirnya dia akan diam. dia ga akan pernah lagi melakukan kesalahan yang sama. itu yang terjadi sama anjing peliharaan bokap. dia ga pernah mau ngambil makanan dari piring bokap sebelum dia dipanggil & piring itu disodorin ke depan moncongnya.

pernah dia sekali ngelanggar, dan kepalanya terpaksa dipukul sampe terkaing – kaing.

hewan belajar dari pengalaman, dan punya insting yang menjauhkan dari hal yang membahayakan mereka.

mereka tidak dibebaskan untuk memilih hidup atau mati. insting mereka hanya digunakan untuk bertahan hidup. kalaupun tidak berhasil, itu karena faktor eksternal, bukan dari dalam diri mereka.

kita ga pernah liat hewan bunuh diri kan?

kembali ke manusia.

bukan berarti manusia bertolak belakang 180 derajat dengan hewan. naluri dasar manusia dari jaman pra sejarah pun selalu mengarah pada usaha bertahan hidup. setelah berhasil bertahan hidup, manusia mulai berpikir dan cenderung mengarahkan diri kepada hal – hal yang punya dampak positif terhadap dirinya. kebutuhan manusia tidak lagi sekedar soal bertahan hidup.

di sini mulai terjadi ambiguitas. deviansi. ambivalensi. apapun.

‘positif’ di sini awalnya mengacu pada hal – hal yang membahagiakan dan menghindarkan manusia dari ketidakpastian dan rasa tidak aman dalam hidupnya.

rumah yang nyaman, karier yang mantap, pasangan hidup yang bisa memberikan apa yang dibutuhkannya… baik fisik maupun psikis, anak – anak yang bisa membuatnya tidak kesepian, bisa jadi penerusnya, dan lain – lain.

tapi kenapa bisa muncul orang² yang menolak untuk tinggal di satu tempat dalam waktu yang lama dan lebih suka hidup nomaden, tanpa ada tempat tinggal yang jelas?

kenapa bisa muncul orang² yang memutuskan untuk meninggalkan karier cemerlangnya dan hidup dari mata pencaharian yang ga jelas penghasilannya?

kenapa bisa muncul orang² yang lebih suka hidup sendiri seakan – akan tidak butuh orang lain?

kenapa ada orang yang tergila – gila sama olahraga ekstrim yang sebenernya bisa membunuh dia kapan saja?

dan hal yang paling mendasar yang membedakan manusia dengan makhluk ber-naluri lainnya :

kenapa ada manusia yang bunuh diri?

karena otak dengan kemampuan berpikirnya, manusia malah melawan insting bertahan hidupnya sendiri?

karena ketidakmampuan otak untuk menurunkan irrasionalitas, manusia malah mencari sesuatu yang berpeluang besar bisa menyakiti dirinya. entah itu dalam bentuk mencintai orang yang jelas menghancurkan harga dirinya terus – menerus & berkali – kali, melakukan pekerjaan yang berbahaya, atau apapun.

manusia ga bisa ditebak. terlalu banyak polanya…

mungkin hewan terkekang, tapi dia tidak harus bertanggung jawab atas keterkekangannya itu.

sedangkan manusia… dia dihadapkan pada berbagai macam pilihan berikut akibat yang ditimbulkan pilihannya itu. ketika pilihan A diambil, ia akan berhadapan dengan kondisi B yang mengarahkan dia untuk memilih C. atau ketika ia mengambil pilihan B, ia akan menuju pada keadaan D yang bisa juga mengarahkan dia untuk  memilih C. dengan sensasi yang berbeda. pengalaman yang berbeda…

manusia harus bertanggung jawab atas kutukan bebasnya.

“terkutuk bebas”, ironis yah? 🙂

p.s 1: judulnya jelas ga nyambung. itu menu gw waktu ngetik skrpsi + nulis postingan ini

p.s 2 : mungkin gw ‘masochist’.

p.s 3 : postingan ini emang paling enak ditulis dengan bahasa yang agak baku.

p.s 4 : dengarkan sandhy sondoro menyanyi. gw celangap!

Advertisements

2 thoughts on “risoles, mie goreng, dan (rencananya) kopi kalengan.

  1. manusia ga bisa ditebak. terlalu banyak polanya…

    ho’oh :mrgreen: tergantung experience of life-nya..

    Aku keknya yg normal2 aja. Eh bukan normal ding, tapi “yang kebanyakan” :mrgreen:

    • experience of life manusia beragam banget ya karena dia ‘terkutuk bebas’ itu :mrgreen:

      paling enak & aman emang jadi ‘kebanyakan’.. rasa sakit bisa diminimalisasi..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s