Perjalanan Darat Vietnam – Laos (Bagian 1)

Perjalanan Vietnam – Laos adalah perjalanan ketiga saya mengunjungi negara-negara di ASEAN. Setelah Malaysia – Singapura dan Thailand – Kamboja, Vietnam – Laos adalah negara yang bisa dilintasi dengan perjalanan darat.

Pada postingan kali ini, saya fokus membahas tentang perjalanan darat Vietnam – Laos menggunakan sleeper bus. Rute yang saya pilih adalah Hanoi – Luang Prabang dan Luang Prabang – Vientiane.

Setelah tiga hari dua malam di Hanoi, tibalah saatnya kami harus berangkat ke Luang Prabang, Laos. Sebelum berangkat saya sempat deg-degan memilih pergi naik sleeper bus. Banyak blog orang luar yang bilang kalau perjalanan darat Vietnam – Laos itu mirip neraka. Mereka bilang pengalaman ini cukup dirasain sekali dalam seumur hidup.  Perjalanan darat Hanoi – Luang Prabang butuh waktu setidaknya 24 jam. Itu belum termasuk jalanan berkelak-kelok ala pegunungan yang katanya bikin mabuk darat. Pengurus penginapan saya di Hanoi juga heran. “Kenapa ga naik pesawat? Naik bus capek, lho. Hati-hati dengan barang bawaan kalian. Banyak orang berniat jahat di terminal dan bis.” Nah lho.

Akhirnya saya coba cek harga tiket Vietnam Airlines. Harganya? 224 USD saja. Bah. Duit sih ada… banyak pula (sombong). Tapi kok rasanya sayang ya. Sementara itu, menurut hasil googling, harga tiket sleeper bus Hanoi – Luang Prabang sekitar 50 USD. Jauh kan? Lagipula, dengan naik sleeper bus semalaman berarti saya menghemat biaya penginapan satu malam. Uangnya bisa dipakai buat beli oleh-oleh, deh.

Akhirnya saya booking tiket sleeper bus Hanoi – Luang Prabang di hotel tempat saya menginap. Ternyata harganya 52 USD. Ini pentingnya ngelebay-lebayin anggaran di rencana perjalanan. Biar ga kaget sama biaya tambahan ga terduga.

Sore terakhir di Hanoi saya dan teman menunggu dijemput di penginapan. Jam 6 sore, muncul bapak-bapak naik motor. Saya langsung sigap gendong carrier, melangkah ke arah si bapak-bapak. Dia langsung bilang “follow me!” sambil nge-gas motornya.

Rupanya saya kelewat percaya diri. Bukan dijemput terus dibonceng, tapi disuruh lari ngejar dia dari belakang! Untungnya saya ga harus lari-lari terlalu jauh. Si bapak-bapak nyuruh saya nunggu di tepi jalan besar. Ga lama kemudian, muncul mini van yang membawa kami ke terminal bus Hanoi. Sampai di sana, bapak-bapak yang naik motor tadi bilang “papo! Papo!” ke arah kami.

Papo? Pispot? Or are you talking in Minions’ language? Papoy?

Oh, ternyata maksudnya paspor.

Si bapak perlu paspor kami untuk beli tiket sleeper bus. Setelah dapat tiket, kami diantar ke bus bertuliskan: HANOI – LUANG PRABANG. Kondektur bus meminta kami menaruh carrier di bagasi. Tips untuk bepergian dengan sleeper bus, pisahkan barang-barang penting seperti HP,kamera, uang, paspor di tas kecil untuk dibawa ke dalam bus. Taruh tas itu di tempat yang paling aman, kalau perlu diiketin ke badan atau ditindih.

Begitu masuk ke dalam bus, mata saya disambut oleh lampu warna-warni ngejreng yang bikin sakit mata. Untungnya, sleeper bus ini dilengkapi wi fi dan selimut. Jadi bisa tetep terhubung internet dan merasa hangat. Saya pilih kursi di bawah karena akses keluar masuknya tidak semudah kursi di atas. Sengaja supaya barang-barang berharga saya aman dari jangkauan orang lain. Dengan ukuran badan perempuan asia, saya juga lebih mudah masuk ke tempat duduk bawah dibandingkan turis Eropa dan Amerika.Meskipun tidak ada nomor kursi, tapi kami semua dipaksa duduk di kursi-kursi belakang. Si kondektur mau kursi-kursi depan tetap kosong. Cara ngomongnya itu lho, bentak-bentak dalam bahasa lokal.

Sekarang, masalah selanjutnya adalah cara mengetahui password wi fi. Penumpang sleeper bus hampir semuanya adalah turis asing. Si kondektur bus sama sekali tidak bisa Bahasa Inggris. Setiap kali kami menanyakan password, dia cuma bergumam dalam bahasa Vietnam. Beruntung ada satu penumpang cewek Vietnam yang bisa menerjemahkan. Kalau ga ada dia, rasanya pengen minta kembalian 20 dari 52 USD yang sudah saya keluarkan. Jam 8 malam, telat 1 jam dari yang diperkirakan, akhirnya sleeper bus kami berangkat juga.

Hampir setiap jam bus berhenti. Kondektur memasukkan kardus-kardus. Sepertinya banyak orang lokal yang menggunakan bus ini untuk mengirim barang. Mulai dari kardus-kardus snack kering sampai kardus entah isinya apa. Dalam hati, saya berdoa semoga itu bukan narkoba. Beberapa jam kemudian waktunya makan malam. Dengan bahasa tubuh seakan-akan ngajak berantem, si kondektur teriak “eat! eat!” dan menyuruh kami turun. Bentuk restoran yang kami datangi mirip rumah-rumah makan di jalur pantura. Menunya standar, spring roll dan pho. Berhubung ga yakin sama kehalalannya, akhirnya kami makan sandwich dari Hanoi aja.

Kami kembali melanjutkan perjalanan. Rupanya ada satu tentara Vietnam yang naik di tengah jalan. Dia cuma bayar 50.000 VND atau setara 30.000 rupiah! Asem, beda harganya jauh banget. Karena ga ada kursi lagi, dia tiduran di lorong persis di sebelah saya. Pertama-tama sih anteng, tapi begitu tengah malam, tidurnya rusuh. Lututnya meniban kaki saya. Suara dengkurannya juga dahsyat. Capek bang abis latihan perang?

Berkali-kali saya tendang lututnya supaya pindah dari kaki saya, berkali-kali juga lututnya balik lagi. Rasanya pengen saya tiban kardus dia. Akhirnya saya balik tidur supaya ga senewen. Sleeper bus masih terus berhenti beberapa kali untuk mengangkut orang-orang lokal yang mau pergi ke Laos. Makin banyak orang lokal, makin berisiklah mereka. Kondektur, supir bus, dan penumpang lokal mengobrol dengan suara keras. Mungkin biar ga ngantuk juga, ya.

Jam 7 pagi kami tiba di perbatasan Vietnam – Laos. Awalnya saya tidak sadar itu sudah di perbatasan. Dengan bahasa tubuh, kondektur menyuruh kami turun dan pergi ke arah yang dia tunjuk. Saya bingung harus jalan ke mana. Kabutnya tebal banget! Bahkan saya ga bisa lihat jalanan dua meter di depan. Suasananya mirip-mirip di film Silent Hill. Akhirnya kami ngekor penumpang lain yang sudah jalan lebih dulu. Setelah beberapa menit jalan, tampak bangunan besar yang ternyata kantor imigrasi Vietnam. Sampai di sana, kami masih harus menunggu karena kantornya belum buka. Beberapa petugas imigrasi sudah datang, tapi mereka masih sibuk mengobrol. Jam 8 lewat paspor kami baru dicap.

Setelah itu, lagi-lagi kami harus meraba-raba sendiri harus ke mana. Tidak ada petunjuk alur imigrasi yang jelas. Akhirnya kami memutuskan langsung berjalan menuju jembatan perbatasan Vietnam – Laos (Nam Can Bridge). Yaaa kalaupun disuruh balik lagi karena ada dokumen belum lengkap, pasrah aja.

Di kejauhan kami melihat bangunan kecil. Tidak ada papan petunjuk. Sampai di sana, kami baru sadar itu kantor imigrasi Laos. Sudah banyak orang lokal dan turis asing di sana. Kata dalam Bahasa Inggris di kantor imigrasi itu cuma dua: “immigration” dan “Custom fee”. Para petugas di loket imigrasi juga tidak bisa berbahasa Inggris. Cewe Vietnam yang bareng kami bilang kalau kami semua harus membayar custom fee sebesar 10.000 kip. Wah, kok saya ga pernah nemu blog traveler lain nyebut biaya ini ya selama googling? Berhubung saya belum punya lao kip, saya bertanya ke si petugas apakah saya bisa membayar dengan dong vietnam. Si petugas cuma plenga-plengo. Si cewe Vietnam entah di mana. Padahal saya butuh dia untuk menanyakan apakah turis ASEAN harus bayar dan apakah bisa membayar dengan vietnam dong.

Akhirnya saya kembali ke loket imigrasi. Saya taruh aja paspor di loket (setelah disela beberapa kali oleh orang lokal yang ga ngerti antre). Sempat deg-degan karena dua petugas imigrasi lumayan lama ngeliatin paspor saya dan membicarakan sesuatu. Sepertinya mereka memastikan apakah turis Indonesia bayar visa atau tidak. Kalau bayar, bisa gawat urusan anggaran perjalanan.  Atau jangan-jangan saya harus balik mengantre custom fee dulu. Wah, bakal lama lagi. Sementara kami harus segera kembali ke sleeper bus. Si petugas lalu memberikan form arrival dan departure. Saya langsung mengisi dan menyerahkan form arrival ke si petugas. Tidak lama kemudian, dia kembali menyerahkan paspor saya yang sudah dicap. Tidak ada sepatah kata pun. Lho? Berarti saya tidak perlu bayar custom fee? Padahal si cewe Vietnam sekali pun bayar dan turis lain juga ikut bayar. Dengan perasaan bingung campur senang, kami kembali ke sleeper bus, melanjutkan perjalanan.

Menjelang siang hari, kami berhenti untuk makan di daerah Phonsavan, Laos. Ada perbedaan rumah makan ala pantura di Vietnam dan Laos. Di rumah makan Laos, saya menemukan banyak toples berisi arak hasil fermentasi. Campuran isi toples itu beragam, mulai dari buah-buahan sampai sarang lebah. Belakangan saya juga menemukan yang berisi kalajengking dan ular utuh. Wow. Kami makan di restoran kecil unik. Mereka menjadikan bom dan alat perang lainnya sebagai dekorasi restoran. Pelayannnya sopan-sopan, kelakuannya mirip akang-akang soleh dari pesantren.

Selesai makan, sleeper bus kami berhenti beberapa kali di WC umum yang keadaannya lebih menyedihkan daripada di Indonesia. Jam setengah 12 malam, akhirnya sleeper bus kami sampai di terminal bis Luang Prabang. Tidak ada siapa-siapa di sana, cuma para penumpang sleeper bus kami dan tiga supir tuktuk. Saya menunjukkan alamat penginapan dalam aksara Laos ke salah satu supir tuktuk. Dia menawarkan harga 20.000 kip per orang untuk ke sana. Syukurlah, menurut hasil googling, biaya tuktuk di sana memang berkisar antara 20.000 – 50. 000 kip per orang. Akhirnya, kami diantar ke penginapan. Sempat takut juga bakal dibawa entah ke mana karena waktu itu kami perempuan hanya berdua dan sudah tengah malam. Beruntung kami dapat supir tuktuk yang baik.

Ternyata perjalanan darat Vietnam – Laos selama 27 jam ga sehoror yang dibilang orang-orang. Jalanannya emang berliku-liku, tapi alhamdulillah ga mabuk darat. Mungkin tergantung orangnya juga, sih. Temen saya ga bisa tidur sementara saya kebo banget. Maybe this is the perks of being a third-world country citizen. Terbiasa sama kerasnya transportasi umum. Tapi rupanya perjalanan darat menyeberangi Vietnam – Laos selama 27 jam masih lebih baik daripada perjalanan darat Luang Prabang – Vientiane yang “cuma” 17 jam. Kenapa? Bisa dibaca di perjalanan darat Vietnam – Laos Bagian 2 ya.

Advertisements

One thought on “Perjalanan Darat Vietnam – Laos (Bagian 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s