Perjalanan Darat Vietnam – Laos (Bagian 2)

Sebelumnya saya udah nyeritain tentang perjalanan darat selama 27 jam dari Hanoi, Vietnam ke Luang Prabang, Laos. Di postingan kali ini, saya mau nyeritain perjalanan darat Luang Prabang – Vientiane.

Awalnya, kami pengen mesen tiket sleeper bus, sama seperti waktu perjalanan dari Hanoi ke Luang Prabang. Tapi berhubung kami terlena damainya kota Luang Prabang, akhirnya telat pesan tiket sleeper bus ke Vientiane. Udah keburu sore. Kata resepsionis penginapan, tiket sleeper bus ke sana cuma tersisa dua kursi dan harus diisi penumpang laki-laki. Katanya demi alasan keamanan. Akhirnya, kita dikasih pilihan mau naik mini van atan VIP bus. Waktu kami tanya mana yang lebih nyaman, si resepsionis menjawab “tentu saja VIP bus!”. Okelah kalau begitu, kami sepakat beli tiket VIP bus dengan harga 185.000 kip per orang atau sekitar 294.000 rupiah. Sial, lagi-lagi lewat batas anggaran yang udah saya bikin. Rata-rata blog traveler bilang kalau harga tiket VIP bus ke vientiane cuma 150.000 kip.

Sekitar jam 6 sore, ada supir tuktuk yang menjemput kami untuk ke terminal bus Luang Prabang. Si supir sempat berhenti di perjalanan untuk menjemput penumpang yang menginap di tempat lain. Akhirnya kita satu tuktuk dengan seorang bapak-bapak dari Jepang.Sampai di terminal bus, kita langsung ngasih barang bawaan untuk ditaruh di bagasi bus. Dilihat sekilas dari luar, VIP bus ini keliatannya sih nyaman. Di tiket juga disebutkan kalau penumpang dapat air minum, snack, dan kupon makan malam. Meskipun kami sudah bawa bekal sandwich yang dibeli di pasar, rasanya senang begitu tahu ada kupon makan malam.

Begini nih kalau naik VIP bus, pikir saya.

Terminal bus Luang Prabang ga beda jauh dengan terminal Pasar Minggu, bedanya mereka menyampaikan pengumuman dalam Bahasa Inggris juga. Mungkin karena daerah wisata, ya. Begitu bus kami diumumkan akan berangkat, kami segera naik ke bus.

Hal pertama yang mencuri perhatian saya adalah aroma di dalam bus. Percampuran bau keringat, jamur, dan debu. Lumayan bikin mual juga. Jelas lebih mending bau pengharum ruangan murahan yang biasa ada di bus antarpropinsi di Jawa, deh. Belum lagi kain pelapis kursi yang sudah sangat kusam dan sampah yang berserakan di lorong bus. Lengan kursi juga berdebu dan sedikit berminyak (ew). Selain itu, AC di atas kursi kami juga tidak bisa dimatikan. Dengan sedikit paksaan, akhirnya arah angin dari AC bisa dijauhkan dari ubun-ubun saya.

Setelah sibuk nyetel penciuman biar lebih kebal, akhirnya kami duduk di kursi masing-masing sesuai nomor di tiket. Rupanya banyak turis asing yang juga naik bus ini. Sambil nunggu bus berangkat, saya iseng nyetel sandaran kursi. Wow, rupanya rusak. Sepanjang perjalanan saya harus bertahan dengan kursi bersudut 90 derajat ini. Ga cuma kursi saya yang rusak, beberapa kursi di belakang saya juga tidak bisa diutak-atik. Sudah bisa dibayangkan perjalanan kami? Baru beberapa menit bus berjalan, ada cewe Prancis yang sakit. Mungkin sakit perut atau mabok nyium bau bus. PAdahal sebelum berangkat dia kelihatan sehat-sehat aja. Tidak lama bus pun berangkat. Kondektur bus membagi-bagikan sebotol kecil air mineral dan snack semacam momogi. Tidak ada selimut atau handuk basah. Wow, servis yang memuaskan. *puter-puter bola mata*

Jalur Luang Prabang – Vientiane ini luar biasa, lho. Luar biasa ngerinya. Cuma ada satu jalur di antara pegunungan, jadi kendaraan yang datang dari arah berlawanan harus bergantian dengan bus kami untuk bisa lewat. Kecepatan bus juga tidak lebih dari 15 km/jam menurut perkiraan saya. Wajar, kalau lebih ngebut dari itu, bisa-bisa lebih cepat sampai ke kehidupan selanjutnya. Selain itu, sama sekali tidak ada pagar jalan, lampu penerangan, atau setidaknya pasak-pasak yang bisa mantulin cahaya lampu kendaraan itu, deh. Tahu kan maksud saya? Padahal di daerah terpencil di Indonesia aja  ada, lho pasak-pasak itu. Beruntung waktu itu sedang bulan purnama, setidaknya bisa kelihatan mana batas jalan dan mana jurang.

Saya kasihan liat pacar temen saya yang bule. Lagi-lagi, bus Asia macam begini ga sesuai dengan bentuk badannya yang tinggi. Lututnya harus keluar jalur supaya lebih nyaman. TIdur miring juga ga bisa. Terpaksa dia tidur dengan posisi 90 derajat. Sekali lagi saya merasa beruntung, meskipun kursi rusak, tapi saya masih bisa tidur menyandar ke teman saya, bahkan sampai mangap-mangap segala. Maaf ya, teman. Sempat sih beberapa kali kebangun karena ada penumpang lokal yang asik dengerin musik dari HP-nya dengan loud speaker. Satu bus bisa denger lagu dangdut koplo ala Laos yang dia puter.

Menjelang tengah malam, saya terbangun (lagi dan lagi), Rupanya bus berhenti. Ada suara perkakas berdenting-denting (halah). Wah, ternyata busnya bermasalah. Sampai satu setengah jam saya tunggu, bus belum juga jalan. Akhirnya, mesin dinyalakan. Baru aja bergerak, bus kembali berhenti dengan bunyi “bum” keras. Mesin pun kembali mati. Saya melongok ke luar jendela, ga ada bangunan apa pun kecuali WC umum reyot. Beberapa penumpang ikut terbangun dan khawatir. Iseng menengok ke belakang, rupanya penumpang warga lokal yang duduk di belakang kiri saya menaruh kakinya di tangan kursi saya. Kampret. Malem-malem dikasih kaki. Akhirnya Saya milih tidur lagi daripada stres. Untung kebo, beberapa menit kemudian saya sudah “menghilang”. Sayangnya, saya sempat kembali terbangun karena si bapak-bapak Jepang (yang satu tuktuk dengan kami ke terminal) ngigo dengan suara keras. Cewe Korea yang duduk di sebelahnya udah keliatan waswas.

Salah satu seni perjalanan darat adalah kemampuan menahan pipis. BIjaksanalah dalam meminum air. Tapi ya namanya manusia, dalam perjalanan 17 jam pasti butuh setidaknya 1 kali pipis dalam iklim sedingin itu. Akhirnya, jam 4 pagi kami berhenti di rumah makan. Ya, kupon makan malam kami bisa ditukarkan di sana. Mungkin lebih baik namanya diganti “kupon sahur”. Keputusan buat bawa bekal sandwich memang bener banget.

Begitu turun dari bus, hidung saya ga selera mencium bau pho yang bisa ditukarkan dengan kupon itu. Baunya aneh, ala ala makanan ga halal. Saya dan teman-teman cuma numpang pipis dan duduk di rumah makan itu. Belum lagi tempatnya yang kotor dan kumuh. Teman saya pun berinisiatif nukerin kupon makan dengan Lays. Iya, Lays. Snack kriuk-kriuk itu. Lumayanlah meskipun ga ngenyangin. Selesai (nungguin supir dan kondektur ngobrol sambil angkat kaki + korek2 gigi) makan, perjalanan pun dilanjutkan.Saya beberapa kali tidur – bangun karena guncangan bus yang lumayan keras. Tulang punggung juga sakit karena dipaksa lurus selama belasan jam.

Begitu matahari muncul, saya excited karena sudah 12 jam perjalanan. Pikir saya, sebentar lagi bakal sampe. Tapi setelah sejam, dua jam, lewatin sawah, ladang kosong, pemukiman terpencil, sawah, kuil, ladang kosong lagi, kok masih belum sampe, ya. Baru setelah 17 jam perjalanan kami sampai di Terminal VIentiane!

Advertisements

4 thoughts on “Perjalanan Darat Vietnam – Laos (Bagian 2)

  1. Ceritanya seru jg sis,,saya n temen2 tanggal 1 maret akan berangkat lintas asia tenggara thai-kam-viet-laos-pulang ke vietnam lg.
    Soal penginapan apakah harus di pesan sebelumnya atau langsung hunting di tkp?
    Thx

    • Halo Hendy, makasih ya sebelumnya krn udah mampir.

      Saran saya, mending booking dulu sblm berangkat. Soalnya waktu saya ksana, smua pnginapan full-booked. Temen traveler yg 1 bus dgn saya sampe nggak dapet pnginapan krn dia blm booking.

  2. Penginapan di luang prabang yg dekat dengan wisata tubing atau blue lagoon ada? Atau Penginapan rekomendasi lainnya? Mohon bantuannya saya Solo backpaker nanti tgl 18-25 Laos ke vietnam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s