Usaha Keras Tidak akan Mengkhianati

Makin lama gw makin sering membaca/mendengar kata-kata di atas. Semacam kalimat motivasi utk mendorong orang tetep bersungguh-sungguh dan ngga menyerah begitu aja.

Gw sendiri ga menentang kata-kata itu. Mengamini, bahkan. Tapi, kalau ga disikapi dengan hati-hati, keyakinan semacam ini takutnya jadi bumerang.

Begitu ‘terlampau’ yakin kalau usaha SUPER keras pasti diganjar sesuatu yang selama ini kita inginkan, hasilnya cuma dua:

kecewa atau sombong. Dengan kadar yang bervariasi, tergantung orangnya.

Kecewa luar biasa kalau ternyata kita tetep aja gagal, meskipun merasa udah mengorbankan semuanya. Waktu, pikiran, tenaga, atau uang.

“Percuma gw usaha keras, tetep ga bisa dapet apa yang gw inginkan.”

apa impact selanjutnya? bisa kapok total, depresi, gila, atau marah sama Tuhan. Dibutuhkan waktu lebih lama untuk sembuh dan kembali ke pola awal.

Sombong kalau ternyata berhasil mendapatkan yang kita inginkan. Well, gw yakin orang yang percaya Tuhan akan tetep bersyukur. Tapi apakah syukur itu akan ‘ditemani’ oleh perasaan “tuh, kan, ternyata gw emang bisa. Gw jago. Gw pantes ngedapetin ini.”? Atau murni rasa syukur?

Hati-hati, kita bahkan ga bisa mengenali 100% isi hati sendiri. Kesombongan bisa muncul dalam tingkatan paling saleh sekalipun.

Bukan hal yang salah untuk mengapresiasi diri sendiri, tapi perlu jeli buat mengenali apakah itu sebenarnya rasa sombong yang ‘dijinakkan’ sedemikian rupa sampe hampir ga kentara, atau bukan.

Jadi, mungkin sebaiknya usaha keras ini jadi bahan bakar dalam proses, bukan fokus ke hasil. Berusaha keras karena menikmati proses bersungguh-sungguh, bukan karena “gw usaha karena pengen dapet hasil A!”

Lho? Bukannya kita harus visualisasi sesuatu yang kita inginkan? Kalau ga fokus pada hasil yang kita inginkan, gimana bisa terwujud?

Then aim for something better, something that makes you feel very satisfied that you won’t mind if you don’t get the result A, B, C, or any other results. Just aim for ONE BIG result.

So, what is that one big result? How can we decide which result that we want to achieve?

Gw pernah berpikir dan menulis tentang hal yang mirip dengan ini sebelumnya. Bisa diibaratkan dengan anak kecil yang merengek minta permen, sesuatu yang enak tapi belum tentu baik, dan jelas bukan yang terbaik untuk si anak kecil.

So, I believe the answer is this.

Jadi, begitu berusaha keras tapi tetep ga mendapatkan apa yang diinginkan, rasa sakitnya ga akan terlampau besar dan lama. Dan akan lebih legowo untuk bertanya, “Oke, jadi sekarang aku harus ke mana?”

Dan kalau berhasil, akan lebih percaya bahwa keberhasilan bukan karena diri sendiri, tapi karena kasih sayang-Nya. Menyadari sesadar-sadarnya kalau peran diri sendiri nol besar, ga ada.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s