Emotional Distance

Hi, I’m back!

Niat one day one post di awal tahun menguap sebagaimana resolusi tahun baru pada umumnya. Panas di awal cepet dinginnya, atau bahkan gak pernah terwujud sama sekali. Mau tulis tangan di buku diary juga cuma bertahan dua tulisan, setelah itu bukunya kembali masuk ke laci gue.

Ternyata, supaya bisa kembali nulis di sini, gue harus ‘dipaksa’ oleh keadaan (baik di sekitar gue atau perubahan mood di dalam diri gue sendiri) yang agak down atau kontemplatif.

Nah, sekarang gue mau bahas tentang emotional distance. Jarak yang lebih nyakitin daripada LDR beda benua, karena bukan fisik yang berjarak, melainkan hati. Kenapa emotional distance bisa terjadi? Kalau dari pengalaman gue, semuanya karena dua hal: rasa trust dan ekspektasi yang gak terpenuhi.  Ketika berkaitan dengan orang yang kita sayang, tempat kita bergantung, tempat cari kenyamanan, selalu ada satu hal yang gak bisa diabaikan: harapan.

Kita berharap orang itu ada ketika kita butuh dukungan, kita berharap orang itu selalu bisa ngasih kenyamanan, kita berharap orang itu bisa ngasih apa yang kita perluin. Semakin kita deket sama orang itu, semakin kita lama-lama bareng dia, akan ada efek sampingnya: harapan kita makin banyak, makin besar.

Nah, kalau udah begini, kemungkinan jadi kecewa juga makin besar. Inget, kan, kata-kata bijak: expectation leads to disappointment? Inget juga, kan, lirik lagunya Lalu, apa yang harus dilakuin? Mengecilkan harapan, menghilangkan tuntutan, cuma fokus menyayangi aja.

Itu idealnya. Tapi praktiknya? Mungkin cuma orang suci yang sanggup kayak gitu, memberi tapi gak berharap apa-apa, sedikitpun. Apalagi yang namanya menghilangkan harapan dan tuntutan ada efek sampingnya juga: emotional distance.

Daripada kita kecewa atau sedih karena seseorang, lebih baik kita sekalian gak usah terlalu deket sama dia secara emosional, kan? Tapi rupanya emotional distance sendiri kayak pedang bermata dua: menghilangkan konflik tapi sekaligus menghilangkan intimacy. Dingin, gak bergairah, dan akhirnya bisa mati kalau kelamaan dilakuin.

Sungguh, emosi adalah sesuatu yang rumit. Takarannya gak boleh berlebihan, tapi gak boleh juga terlalu sedikit. Dan menentukan takarannya itu yang butuh belajar seumur hidup.

Udah, ah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s